Minggu, 08 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Tak Terima Dianggap Mandul oleh Suami Sendiri

29 Juni 2019, 01: 13: 32 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Semua pasangan tentu ingin punya momongan. Ada yang beberapa bulan menikah, langsung dapat. Ada yang harus menunggu bertahun-tahun, baru punya anak. Kalau kasus yang kedua, hendaknya suami istri saling menguatkan. Bukannya saling menyalahkan.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya 

Kapan punya anak adalah pertanyaan paling menyebalkan nomor sekian setelah kapan menikah. Pertanyaan demi pertanyaan itu seakan sudah membudaya dan ditanyakan santai saja tanpa beban. Tanpa merasa yang ditanya makin nelangsa dikepoi terus-menerus. 

Kalau yang seperti ini, seharusnya suami istri saling menguatkan. Jangan malah saling menyalahkan. Karena kenyataan susah punya anak saja sudah pahit. Jangan ditambah-tambahi. 

Namun agaknya Donwori, 35, ini tipikal suami kurang pengertian. Tujuh tahun sejak ia menikahi Karin, 32, keduanya memang belum dikaruniai momongan. Kalau kata dokter, kandungan Karin lemah sehingga proses pembuahan selalu gagal. Yah begitulah simpelnya. Maklum, tak paham-paham amat dengan istilah medis.

Kemandulan Karin ini rupanya tidak diterima oleh Donwori. Setelah gagal dan gagal lagi dikarunia momongan, sikap Donwori mulai berubah. Ia yang awalnya manis di awal menikah, berubah menjadi pemarah. Ia yang dulunya cinta sekali dengan istri, juga kerap bersikap kasar. "Berubah perhatiane, sekarang malah cenderung cuek. Acuh tak acuh," curhat Karin di ruang tunggu Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya, belum lama ini. 

Perlakuan Donwori semakin buruk ketika ia sedang ada masalah di kerjaannya. Pulang-pulang, ia pasti mengamuk kepada Karin. Kalau sudah mengamuk, biasanya kata-kata mandul selalu keluar dari mulutnya. Dikatai, "Dasar perempuan mandul," atau "Mandul ae ra usah kakean polah," meluncur bebas saja dari mulut Donwori. Belum ditambah sedikit bumbu pisuhan. 

Mendapat kata mandul terus-terusan, tentu saja Karin nelangsa. Hanya saja, Karin tahan saja. Toh mau berbuat apa juga? Ia masih cinta. Juga masih berharap suatu saat terjadi keajaiban dalam rumah tangganya.  "Wes meneng ae aku, Mbak. Tak empet, tiwas bubaran," tambah Karin. 

Namun kesabaran manusia ada batasnya. Pun dengan kesabaran Karin. Karena semakin ke sini, Donwori juga kian banyak polah. Tak cukup menyiksa dengan kata-kata, Donwori juga mulai main tangan. 

Bahkan, belakangan, Donwori juga kerap main perempuan. Pulang selalu larut malam, tapi ketika ditanya dari mana, selalu menghardik. Tak tahan diselingkuhi terus menerus, Karin pun akhirnya menyerahkan pilihan kepada Donwori.

Apakah ingin tetap melanjutkan hubungan atau mengakhiri cukup sampai di sini saja. Dan rupanya, Donwori memilih opsi yang ke dua. "Yo wes, Mbak. Tiwas mangan ati aku bendino disalahno. Mending tak culno wae," tukas perempuan berwajah sayu ini. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia