Jumat, 06 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Features Surabaya

Butuh 3 Jam Untuk Ciptakan Alat Pencuci Piring di Ajang AMEC

28 Juni 2019, 10: 00: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

KOMPAK:  Hisyam Darius Haffiab Amadeo (kiri) dan Nabita Nirla Sevina menunjukan cara kerja alat pencuci piring yang diciptakannya.

KOMPAK: Hisyam Darius Haffiab Amadeo (kiri) dan Nabita Nirla Sevina menunjukan cara kerja alat pencuci piring yang diciptakannya. (Rahmat Sudrajat/Radar Surabaya)

Share this      

Nirla Sevina, pelajar SMP Labschool Unesa, untuk menciptakan alat pencuci piring otomatis di ajang kompetisi Asia Math Engineering Challenge (AMEC) di Singapura. Di kompetisi yang diikuti oleh delapan negara di Asia Tenggara itu, keduanya berhasil membawa pulang gelar The Best Performance. 

RAHMAD SUDRAJAT-Wartawan Radar Surabaya  

Kompetisi ini diikuti oleh anak-anak kreatif sekaligus cerdas dari Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Kamboja, Myanmar, Bangladesh, Vietnam, serta tuan rumah SIngapura. Hisyam bercerita, di kompetisi tersebut para peserta diajak membuat lalu mewujudkan ide  sehingga alat teknologi yang diciptakan dapat langsung diujicobakan di tempat tersebut. “Ya kami hanya diberikan satu materi dalam bentuk power point berbahasa Inggris. Kemudian kami langsung disuruh untuk membuat ide, kemudian merancang perangkatnya, hingga menjadi alat. Lalu mempresentasikan alat yang kami ciptakan. Semuanya serba spontan. Tanpa persiapan karena alat semua sudah disediakan di tempat kompetisi,” cerita Hisyam  kepada Radar Surabaya, kemarin (27/6).

Dengan tidak tahunya sistem kompetisi tersebut sebelumnya, membuat Hisyam dan Nabita harus bekerja keras dalam kompetisi yang bertema Smart City Smart Living. Namun upaya kerja keras dalam waktu yang singkat akhirnya membuahkan hasil atas karya yang tak terduga dan disanjung oleh para dewan juri. “Awalnya kami tidak mempunyai gambaran bahwa di kompetisi tersebut harus ngapain dan apa saja yang dilakukan. Saya kira bikin konsepnya tentang programming saja.  Tiba-tiba diberi power point yang tulisannya bahasa Inggris, suruh buat produknya juga,” ungkap pelajar kelas VIII tersebut.

Keduanya pun kompak membuat alat pencuci piring otomatis yang terhubung dalam sebuah aplikasi, sehingga alat tersebut bisa membersihkan piring secara otomatis. “Meski sudah jadi saat kompetisi pun sempat terhambat. Seperti chip-nya rusak. Sensor cahaya ketika itu juga tidak bisa. Tapi akhirnya saat penjurian, dewan juri ngomong ide baik. Nanti juga akan kami kembangkan sebaik mungkin dan bisa digunakan” terang Nabita, siswa kelas XI tersebut.

Sementara itu, Kepala sekolah SMP Labschool Unesa Dian Hijrah Saputra mengaku bangga bahwa siswanya tersebut dapat bersaing dengan 8 negara di Asia Tenggara. “Ini baru pertama kali siswa kami berjuang mengikuti kompetisi internasional dan mendapatkan best performance. Apalagi tidak ada persiapan sama sekali dari para siswa. Untungnya mereka cerdas, dapat menciptakan ide yang cemerlang,” jelas Dian.

Dian menambahkan bahwa kedua pelajar tersebut baru pulang dari ibadah umrah, sehingga waktu untuk berkompetisi sangat terbatas. “Saya bersyukur sekali meski waktunya mepet, karena keduanya baru pulang menunaikan ibadah umrah. Keduanya sepupuan. Jadinya waktunya sepulang umrah, keduanya langsung mendapatkan medali dalam ajang yang bergengsi,” terangnya. (*/opi)

(sb/jpg/jek/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia