Sabtu, 14 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Minta Motor ke Suami Baru, Dimusuhi Semua Anak Sambung

22 Juni 2019, 14: 54: 39 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Orang sekarang apa semua memegang prinsip pikir keri ya? Kalau kebelet nikah ya nikah. Gak perlu liat bibit, bebet, bobot. Nanti kalau rupanya gak cocok, ya tinggal cerai.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Masalahnya, banyak kasus serupa. Karin, 46, pun seperti itu. Masa di usianya yang kepala empat, ia sudah mencetak rekor kawin cerai sebanyak tiga kali glundung. Menikah apa tayamum itu namanya?

Dari ceritanya, semua perceraiannya ini disebabkan oleh masalah ketidakcocokan. Kalau tak cocok dengan suaminya, ya tak cocok dengan keluarga laki-lakinya. Yang terakhir kali ini, ia merasa dimusuhi oleh anak-anak Donwori, 60, suaminya.

"Wong seneng ambek ora lak ketok se, Mbak. Mereka iku ketoro pol lek gak seneng ambek aku," jelas Karin bersungut-sungut di ruang tunggu Pengadilan Agama Surabaya,  kemarin (21/6).

Karin memang menikahi duda tua yang boleh dibilang tinggal wassalamnya. Lumayan ada meski tak kaya. Hidup sebatang kara, tapi rumah besar magrong-magrong. Di rumah sebesar itu Donwori hanya tinggal sendiri. Karena kelima anaknya sudah beranak pinak di tempat lain. Ada yang tinggal di samping rumah bapaknya, ada yang tetap satu kompleks, ada pula yang merantau jauh.

Sebagai laki-laki yang katanya always on setiap saat, tentu Donwori kesepian. Itulah awalnya kedekatan Karin dengan Donwori. Untuk jadi teman ngeteh kala sore. Atau teman berdebat kusir masalah sisir. Kalau kata Tulus, untuk jadi teman hidup lah.

Namun dasar nasib janda. Sejak awal perkenalan dengan keluarga, ia sudah mendapat tatapan sewot yang seakan berbicara 'calon perempuan yang akan menyabotase harta waris'. Ia hanya dianggap janda penggoda pengeruk kekayaan saja. Padahal sebenarnya, jikalah anak-anak Donwori tahu tujuan Karin menerima  lamaran Donwori. "Aku gelem dirabi soale alim Mas Wori. Iso nuntun. Dudu krono duwite," jelasnya membela diri.

Namun beginilah nasib janda. Ada yang bilang jadi janda itu  keadaan terburuk seorang perempuan. Mau nakal atau tidak ya tetap saja dicap nakal. Karin pun demikian.

Hingga setahun pernikahan, ia tak bisa mendekati satu pun anak Donwori. Bahkan ia semakin didesak akibat perbuatan nekatnya.

Suatu saat, Karin meminta Donwori sepeda motor baru. Sebagai istri, permintaan semacam ini tentu saja sah-sah saja, harusnya. Namun ia tak menduga kalau sampai dimusuhi satu keluarga. "Wes mulai ono omongan. Kan, mulai njaluk aneh-aneh. Lha aku bojone lak yo wajar yo njaluk-njaluk. Moso zaman modern ngene nandi-nandi goncengan onthel yo gak mbois," keluhnya panjang lebar.

Karena putus asa dengan penerimaan keluarga barunya, juga kesal dicap buruk terus-terusan, Karin pun enteng minta cerai. Buat apa ditahan-tahan hidup dengan laki-laki, yang kaya juga tak begitu, tapi anak-anaknya macam bodyguard siaga. Tak membuka celah sedikit pun bagi Karin untuk memetik manfaat dari menikah.

Ia pun santai mengurus proses cerai. Woles tanpa drama. Suami bisa dicari lagi, prinsipnya. Kalau potongannya yang macam Donwori mah terlalu gampang, di mana-mana ada. "Tak tunjukkan ya, aku gak pateken ambek bapakmu, ganteng ora sogeh yo ra nemen. Akeh gantine," pungkas Karin kesal level 10. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia