Sabtu, 14 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Features

ACT Dampingi Jutaan Pengungsi Rohingya, ‘Palestina di Asia Tenggara’

22 Juni 2019, 08: 58: 06 WIB | editor : Wijayanto

MENCARI ASA: Seorang anak pengungsi Rohingya di kamp pengungsian Kutupalong, Bangladesh.

MENCARI ASA: Seorang anak pengungsi Rohingya di kamp pengungsian Kutupalong, Bangladesh. (ISTIMEWA/ACT)

Share this      

jakarta – Derita warga etnis Rohingya terus menyedot perhatian dunia. Setara dengan nasib saudara muslim mereka yang ditindas bangsa Yahudi di Palestina, salah satu media ternama di Tanah Air mengistilahkannya sebagai  ‘Palestina di Asia Tenggara.’

Ketidakjelasan nasib, derita hidup sebagai pengungsi yang kini mencapai satu juta jiwa menurut data PBB, memantik respons Aksi Cepat Tanggap (ACT) –lembaga nirlaba yang berpusat di Jakarta- untuk terus mendampingi mereka melalui program-program reguler yang bermanfaat.

Hal ini dilakukan semata karena kondisi masyarakat Rohingya sama sekali tidak membaik. Justru kian tertindas dan terancam penghapusan etnis, serta tidak mendapat hak-haknya sebagai warga negara seperti etnis-etnis lain yang ada di negara asal mereka, Myanmar.

BUTUH BANTUAN: Pengungsi Rohingya yang didominasi wanita dan anak-anak.

BUTUH BANTUAN: Pengungsi Rohingya yang didominasi wanita dan anak-anak. (ISTIMEWA/ACT)

 “Kami orang-orang Rohingya tinggal di kamp pengungsian. Sungguh, sangat sulit hidup sebagai kami. Kami tidak tahan lagi dengan situasi seperti ini. Ada begitu banyak etnis yang hidup selayaknya manusia di Myanmar, mengapa Rohingya tidak bisa seperti itu?” ungkap Kadera Mia sebagaimana dirilis TRT World, Kamis (20/6).

Kadera Mia adalah pria paro baya yang menjadi salah satu dari ratusan ribu pengungsi yang kini tinggal di tempat pengungsian di Bangladesh. Ia tinggal bersama delapan anaknya. Mia dan anak-anaknya tinggal di bilik bambu beratap jerami. “Kekerasan dan kekejaman yang terjadi tanpa henti memaksa kami pindah ke sini satu setengah tahun lalu. Banyak yang telah kami korbankan,” jelasnya.

Mia mengaku sejatinya tidak ingin datang ke kamp pengungsian Kutupalong, Bangladesh. Namun ancaman pembunuhan dan aksi kekerasan lain memaksa dia dan keluarganya serta warga etnis Rohingya lain untuk meninggalkan rumah.

Pada masa pelarian itulah, ia terpisah dengan istrinya yang menurutnya besar kemungkinan telah dibunuh oleh militer Myanmar. Untuk mencari tempat aman, mereka rela menembus pegunungan Buthidaung dan menyusuri Sungai Naf menuju sebuah wilayah di bagian paling selatan negara Bangladesh: Cox's Bazar, tempat yang mereka anggap lebih aman dari Arakan.

Selasa (18/6) lalu, sebuah kapal yang mengangkut 65 muslim Rohingya dikabarkan terdampar dalam kondisi nyaris karam di perairan Thailand Selatan. Sebanyak 29 laki-laki dan 31 perempuan berkebangsaan Myanmar ditemukan di Pulau Rawi, Provinsi Satun, Thailand. Berdasarkan pengakuan salah seorang muslim Rohingya, mereka sudah menumpangi kapal tersebut selama beberapa bulan terakhir untuk mencapai Malaysia.

Kejadian serupa memanggil kembali ingatan masyarakat Indonesia tentang tragedi 20 April 2018 lalu. Kala itu, kapal yang ditumpangi muslim Rohingya juga pernah terdampar di kawasan Kuala Raja, Bireuen, Aceh. Selama lebih kurang satu pekan sebanyak 79 muslim Rohingya terombang-ambing di tengah lautan, nasib mereka sama tidak menentunya seperti hidup mereka di Myanmar maupun di negara tujuan berikutnya. (act/jay)

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia