Kamis, 24 Oct 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Pasar Sepatu Turun Hingga 60 Persen, Aprisindo Belum Tahu Penyebabnya

19 Juni 2019, 17: 54: 30 WIB | editor : Wijayanto

Pasar Sepatu Turun Hingga 60 Persen, Aprisindo Belum Tahu Penyebabnya

SURABAYA - Asosiasi Persepatuan Indonesia Jawa Timur (Aprisindo Jatim) menilai kondisi pasar sepatu dalam negeri mengalami penurunan yang cukup signifikan. Yakni turun hingga 50-60 persen.

Ketua Aprisindo Jatim Winyoto Gunawan menuturkan, sampai saat ini pihaknya masih belum mengetahui faktor penurunan tersebut. Tetapi memang kondisi saat ini biaya produksi cukup tinggi. Sedangkan biaya ini mempengaruhi kompetitifnya barang-barang impor. Pihaknya melihat banyaknya barang-barang impor yang masih masuk ke dalam negeri. Sehingga hal ini akan sangat mempengaruhi penjualan alas kaki, meskipun penjualan di pasar pun juga sepi.

"Selama ini barang-barang impor masih menyaingi barang-barang dalam negeri. Sehingga mahalnya ongkos produksi dan adanya momen pemilu kemarin membuat mereka tidak membeli barang begitu banyak. Mungkin faktor-faktor tersebut, saya juga tidak tahu persisnya bagaimana," terangnya.

Padahal, kelesuan dalam negeri ini akan mengganggu perusahaan alas kaki yang non ekspor. Karena perusahaan ekspor masih akan tertolong dengan kinerja ekspornya. "Sementara perusahaan non ekspor kalau stoknya sudah banyak bisa-bisa mereka berhenti," imbuhnya.

Sampai saat ini, tercatat perusahaan sepatu di Jatim masih didominasi oleh perusahaan non ekspor. "Komposisinya 60:40 persen. Masih sedikit yang ekspor," lajutnya.

Winyoto menambahkan, pihaknya akan berupaya untuk lebih menggenjot lagi kinerja dalam negeri. "Di semester dua kira-kira akan mulai karena bertepatan dengan momen back to school," ujarnya.

Meskipun, berdasarkan pengalaman tahun lalu, peningkatannya tidak akan sebanyak 5-6 tahun lalu, yang naiknya bisa dua kali lipat. Meskipun tidak signifikan tetapi pihaknya tetap optimistis untuk meningkatkan penjualan sepatu dalam negeri.

Sementara terkait investasi-investasi di bidang sepatu, disebutkan Winyoto, untuk sementara ini belum ada. "Kecuali mereka yang sudah mengantongi on order yang pindah dari negara A ke negara B. Bisa kemungkinan terjadi. Tetapi di Jatim masih adem ayem (tenang, Red) belum ada pergerakan sama sekali," pungkasnya. (cin/nur)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia