Sabtu, 20 Jul 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Tak Terima Putranya Dimaki Istri, Mertua Suruh Cerai

19 Juni 2019, 14: 51: 58 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Hubungan antara mertua dan menantu yang selalu panas, agaknya sudah kodrat. Ada berupa-rupa kasusnya. Kali ini keluhan itu datang dari Mira, 57, ibu dari Donwori, 29.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Anak susah-susah dididik dari kecil. Disuapin, dimandiin. Digendong kalau nangis, diantar sekolah hingga sukses dan akhirnya dewasa. Lalu, diantarkan ke pelaminan bersama perempuan yang dicintai. Eh, kok enak-enaknya sekarang si Donwori dimarah-marahin Karin setiap hari. 

Mungkin grundelan demi grundelan itu yang dirasakan Mira, kepada Karin, 26, mantunya. Sehingga membuatnya berkali-kali meyakinkan Donwori agar berpisah saja. Dan segera mencari yang baru, mumpung masih muda.

Posisi Mira saat itu masih konsultasi. Belum ada berkas cerai yang ia bawa. Hanya saja, ia meminta salah seorang pengacara yang berkantor di samping Pengadilan Agama (PA) Klas1A Surabaya ini menasehati anaknya. Agar lebih baik menceraiakan istrinya saja kalau memang tidak bisa diarahkan. 

Sembari menunggu antrean yang cukup panjang itu, ia membeberkan segala keburukkan menantunya yang tak ia sukai. Salah satu yang paling parah adalah suka memaki-maki suami. Dengan kata lain, memaki-maki anak Mira sendiri. 

Sebagai orang tua yang tinggal satu rumah, tentu Mira risih mendengarnya. Orang tua mana sih yang tidak sedih melihat anak laki-laki kebanggaannya diplonco istrinya sendiri. "Iku bojo opo bos asline. Murang-muring tok wae bendino penggaweane," ujarnya. 

Selain tak pantas didengarkan, tentu saja sikap menantunya ini menyalahi bagaimana seharusnya sikap seorang istri. Tak pantas. Ra nduwe unggah-ungguh, istilah jawanya.

Meski usia terpaut tiga tahun, Karin seakan lebih berani bila dibandingkan dengan Donwori. Mungkin karena beda kebudayaan. Karin yang orang Makassar, gaya bicaranya keras. Namun, berbicara keras khas orang sana dengan durhaka kepada suami kan beda cerita. 

Tapi Mira curiga,  sikap kasar Karin ini lantaran ia bekerja. Meski hasilnya juga dibuat senang-senang sendiri. "Kerjo apoteker. Ngono anak loro yo diculne ae. Panggah mbahe sing ngemong. Tapi duwe panganan opo yo dipangan dewe no, mbahe opo tahu dikeki," lanjutnya, kesal. 

Anak Karin memang Mira yang merawat. Dibantu oleh anaknya yang terakhir. Upahnya sepersepuluh UMR Surabaya sebulan. Rp 300 ribu saja. Itu pun Mira tidak tega memakainya. Selalu diberikan kepada anak mbarepnya. 

Sikap buruk menantunya ini, biasanya dilakukan saat sedang kesal. Anak rewel yang dimaki bapaknya. Disuruh mendiamkan karena dia capek, katanya.  Ia marah-marah karena gaji Donwori kecil. Berkali-kali mendesak agar suaminya ganti kerjaan, tanpa berpikir mencari kerja itu bukan sulapan. 

Belum lagi kalau Mira ketahuan mengomeli Donwori karena Karin. Ujung-ujungnya, Mira juga akan diomeli balik oleh Karin. Pada akhirnya Donwori yang paling kasihan di sini. 

Di mata Mira, keburukan Karin tak cukup di situ. Menurutnya, Karin ini tidak mengerti penggawean. Pulang kerja masuk kamar, cekikikan nonton televisi. Karin baru mau keluar ketika lapar. Itu pun tinggal makan. Mungkin Karin bisa menghitung dengan jari juga, berapa kali ia mencuci piring bekas pakai makannya. Ya kalau tidak dipaksa, ya tidak akan dicuci. 

Sebenarnya kalau alasan ini sih remeh temeh. Tidak akan Mira permasalahkan kalau mantunya hormat dan taat pada suami. Tapi, kalau kejadiannya dimarahi terus-terusan, Mira tak sudi sudah mencuci piring bekas makan menantu tak tahu diri itu. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia