Sabtu, 14 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Gresik

Komplotan Gendam Pasutri Libatkan Adik sebagai Penjual Perhiasan

18 Juni 2019, 17: 11: 37 WIB | editor : Wijayanto

DIRINGKUS: Petugas menunjukkan pasutri Fitria-Holil serta Jefri Sony yang terlibat kasus penipuan dengan modus gendam.

DIRINGKUS: Petugas menunjukkan pasutri Fitria-Holil serta Jefri Sony yang terlibat kasus penipuan dengan modus gendam. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Perburuan polisi untuk menangkap komplotan pelaku gendam membuahkan hasil. Polisi berhasil meringkus tiga tersangka dalam kasus ini, Minggu (16/6). Mereka adalah Fitria, 44, dan Holil, 40.

Pasangan suami istri (pasutri) yang tinggal di Jalan Putat Jaya Gag 2C Nomor 9 atau Jalan Putat Jaya Timur Tembusan B Nomor 1, Surabaya, ini ditangkap bersama tersangka lain, yakni Jefri Sony, 42, warga Banyu Urip Jaya Gang 5/17, Surabaya, yang tak lain adik pasutri itu. 

Proses pengejaran dilakukan polisi setelah pihaknya mendapatkan laporan dua korban. Mereka adalah Ernita, warga Simomulyo Baru 7A/11 atau ngekos di Jalan Tempel Sukorejo 6/26, dan Puji Astuti, warga Jalan Kedung Klinter I. Keduanya melaporkan setelah kehilangan perhiasan dan uang dengan total mencapai Rp 70 juta. Barang berharga mereka raib setelah didatangi oleh pasutri yang mengaku sebagai tabib.

“Sehari setelah korban melapor, ada korban lain dengan kerugian lebih besar. Kami pun lantas melakukan penyelidikan dan pengejaran terhadap para pelaku,” ungkap Kapolsek Tegalsari Kompol Rendy Surya Aditama, Senin (17/6).

Rendy mengatakan, sepekan melakukan penyelidikan, pihaknya pun menangkap Holil dan Fitria. Mereka ditangkap di rumah persembunyiannya di kawasan Putat. Dari tangan keduanya, polisi mengamankan sejumlah barang bukti di antaranya kalung, gelang, dan cincin emas yang diduga milik para korban.

“Saat kami amankan, kedua tersangka mengakui semua perbuatannya,” terangnya.

Alumnus Akpol tahun 2005 tersebut juga mengatakan, setelah Holil dan Fitria, pihaknya melakukan pengembangan. Rupanya ada satu pelaku lagi yang terlibat, yakni Jefry, yang tak lain adalah adik kedua tersangka. Peran Jefry sebagai perantara yang sering diminta Holil dan Fitria untuk menjual barang hasil curian.

“Saat ini, kami masih memburu penadah yang membeli emas hasil curian itu,” tandas mantan Kapolsek Wonokromo ini.

Sedangkan Kanit Reskrim Polsek Tegalsari Iptu Zainul Abidin mengatakan bahwa julukan tabib yang mereka sematkan dipastikan hanya modus kedua pelaku. Sebab, saat pihaknya mengecek pesan-pesan dari costumer-nya banyak yang mengaku kecewa dengan para tersangka. “Kalaupun mereka bisa menyembuhkan atau gendam, itu hanya faktor keberuntungan saja,” ungkap Abidin.

Abidin mengatakan, uang hasil penjualan emas yang sudah berhasil mereka kumpulkan sekitar Rp 15 juta. Mereka menjualnya di beberapa lokasi di Surabaya, seperti di Jalan Blauran dan Jalan Dukuh Kupang. Selain itu, polisi juga mengamankan buku-buku ritual yang diduga digunakan oleh pelaku untuk menyakinkan korban.

“Kami masih mendalami kasus ini. Sebab, ketiga tersangka tersebut masih setengah-setengah mengakui perbuatannya. Termasuk jumlah korban yang berhasil mereka kelabui,” tandas Abidin.

Sementara itu, kepada polisi, keduanya berkilah jika pencurian itu dilakukan secara terpaksa. Sebab, mereka butuh uang untuk mengobati adik keduanya yang terkena sakit komplikasi. “Pengobatannya habis banyak. Sehingga kami mencuri emas dan uang. Selebihnya, uang penjualan kami gunakan untuk hidup sehari-hari,” ujar Holil. (yua/rek)

(sb/yua/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia