Senin, 18 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Sidoarjo
Dipanen Khofifah di Lahan Puspa Agro

Inilah Istimewanya Teknologi R5 untuk Tanaman Padi

18 Juni 2019, 15: 32: 01 WIB | editor : Wijayanto

PANEN: Gubernur khofifah bersama Bupati Saiful Ilah dan pimpinan PT Puspa Agro dan PT PWU saat memanen padi ratun yang ditanam dengan teknik R5.

PANEN: Gubernur khofifah bersama Bupati Saiful Ilah dan pimpinan PT Puspa Agro dan PT PWU saat memanen padi ratun yang ditanam dengan teknik R5. (LUKMAN ALFARISI/RADAR SIDOARJO)

Share this      

SIDOARJO - Bupati Sidoarjo Saiful Ilah bersama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa melakukan panen hasil uji coba padi ratun dengan teknologi R5. Panen padi tersebut dilakukan di area pertanian Puspa Agro, Senin (17/6). Panen tersebut merupakan yang pertama kali di Indonesia.

Bupati Sidoarjo Saiful Ilah mengatakan, penggunaan teknologi R5 tersebut setidaknya memiliki tiga keunggulan. Di antaranya, dalam satu kali tanam bisa lima kali panen. Selain itu dapat mengurangi jumlah pupuk yang digunakan serta dapat meningkatkan perkembangan tanam padi. Pupuk yang digunakan pun berbeda. Di dalamnya mengandung arang sekam, zeolit, kaptan, dan kapur pertanian.

Pria yang kerap disapa Abah Ipul tersebut menjelaskan, di Sidoarjo sendiri jumlah lahan pertanian terus berkurang. Bahkan hingga tahun 2028, lahan pertanian Sidoarjo diprediksi hanya tersisa 12.205 hektar. Untuk itu, penggunaan metode R5 tersebut dapat menjadi salah satu solusi yang bisa digunakan. “Kalau dengan panen R5 ini bisa berhasil, kenapa tidak,” katanya.

Untuk itu, penggunakan teknologi seperti ini perlu dikembangkan. Sebab hal ini dapat menjaga ketersediaan ketahanan pangan serta menjaga stabilitas harga pasar. Selain itu, hal ini juga dapat meningkatkan jumlah produksi padi. Sebab hanya dalam satu kali tanam dapat panen hingga lima kali.

Sementara itu, Gubernur Jatim Khofiah Indar Parawansa menuturkan, hak kekayaan intelektual teknologi revolusi ke-5 ini sudah keluar. Menurutnya, hal ini menjadi penting untuk pengembangan berikutnya. Untuk itu, dalam panen tersebut, Khofifah sengaja mendatangkan badan koordinator wilayah (bakorwil). “Tujuannya, agar setiap bakorwil bertanggungjawab untuk mengembangkan di wilayahnya masing-masing,” ujarnya.

Panen yang dilakukan tersebut merupakan panen ke-5. Namun begitu, panen kelima tersebut kualitasnya masih sama dengan bibit pokok. Sehingga tidak ada pengurangan kualitas dalam setiap kali panen. Dalam satu hektar, dapat mengahsilkan enam hingga tujuh ton. “Ini bisa lima kali panen satu kali tanam,” jelasnya.

Sementara itu, salah satu inisiator penemu metode tersebut, Koos Kuntjahyo mengatakan, penggunaan teknologi R5 tersebut dapat mengurangi pupuk NPK dan Urea hingga 50 persen. Hal itu lantaran penggunaan tersebut dapat menyerap residu bekas pupuk sintetis. Tak hanya itu, penggunaan teknologi tersebut juga dapat menyerap pupuk.

Sehingga dapat menghemat penggunaan NPK dan Urea. Dalam penerapannya, petani tidak perlu mengolah kembali tanah bekas tanam sebelumnya. Bahkan, lama masa panen padi tersebut lebih cepat ketimbang masa panen padi biasa. Jika padi biasa bisa sampai 3 bulan 10 hari. “Namun kalau ini hanya 2 bulan sudah bisa panen,” paparnya. (far/nis)

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia