Sabtu, 20 Jul 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Amankan Grahadi, Siagakan 2.806 Personel Bersenjata Peluru Hampa

15 Juni 2019, 05: 10: 59 WIB | editor : Wijayanto

ANTISIPASI: Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan didampingi Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Sandi Nugroho memeriksa kesiapan personel usai apel gel

ANTISIPASI: Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan didampingi Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Sandi Nugroho memeriksa kesiapan personel usai apel gelar pasukan pengamanan di halaman Gedung Grahadi, Surabaya, Jumat (14/6). (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Sidang perkara sengketa hasil pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi (MK) yang berpotensi memancing kerawanan menjadi perhatian pihak kepolisian di Jawa Timur.

Apalagi salah satu hasil pemilu yang banyak dijadikan bahan sengketa ada di wilayah Jawa Timur. Hal ini diantisipasi pihak berwajib dengan meningkatkan pengamanan dan kewaspadaan terkait akan ada aksi unjuk rasa yang rencananya dilakukan di depan Gedung Negara Grahadi.

Polrestabes Surabaya bersama jajaran terkait di Polda Jatim mengantisipasi hal ini dengan melakukan apel pengamanan di halaman Gedung Negara Grahadi, Jumat (14/6).

Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Sandy Nugroho menyebutkan, aksi unjuk rasa yang akan dilaksanakan di Gedung Grahadi harus diantisipasi sejak dini. Semua potensi yang kemungkinan terjadi saat aksi tersebut salah satunya kerusuhan menjadi perhatian tersendiri.

Sebanyak 2.086 personel gabungan polisi dan TNI akan disiagakan di titik-titik pergerakan massa. “Grahadi tetap menjadi fokus pengamanan massa nanti. Kekuatan kepolisian sendiri sekitar 1.800,” katanya.

Untuk kepolisian, kekuatan Polrestabes Surabaya akan didukung oleh polres perbatasan mulai dari Polres Pelabuhan Tanjung Perak, Polres Gresik, Polresta Sidoarjo dan Polres Mojokerto. Penjagaan juga diperkuat oleh Brimob Polda Jatim dan Dalmas Polda Jatim.

Selain fokus pengamanan di Grahadi, kepolisian juga menempatkan anggotanya di beberapa lokasi obyek vital di Surabaya. “Ada beberapa pos yang kami siapkan untuk terus melakukan pengamanan,” terangnya.

Dalam pengamanan ini, polisi dan anggota TNI yang berada di lapangan tidak diperbolehkan membawa senjata dengan peluru tajam. Mereka hanya dibekali peluru hampa dan gas air mata. Ini dilakukan untuk menghalau massa apabila terjadi kerusuhan atau hal-hal yang tidak diinginkan.

“Tadi sudah diperiksa langsung oleh Pak Kapolda, kalau ada peluru tajam dalam pengamanan nanti dipastikan bukan dari polisi atau TNI,” tegasnya.

Selain itu, anggota juga akan ditempatkan di gedung-gedung tinggi di sekitar Surabaya untuk memantau hal-hal yang tidak diinginkan. Sandy menegaskan, antisipasi kerusuhan ini sesuai arahan dari kapolri.

 “Berbagai potensi terus kami lakukan pendalaman, informasi sekecil apapun akan kami kumpulkan dan situasi akan terus berkembang nanti. Ini sudah kami antisipasi,” jelasnya. (gun/jay)

(sb/gun/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia