Sabtu, 20 Jul 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Penerapan Industri 4.0 di Mamin Masih Minim

14 Juni 2019, 17: 52: 17 WIB | editor : Wijayanto

MASIH MINIM: Revolusi Industri 4.0 memiliki banyak manfaat, termasuk bagi industri makanan dan minuman. Penerapannya bisa membantu meningkatkan daya s

MASIH MINIM: Revolusi Industri 4.0 memiliki banyak manfaat, termasuk bagi industri makanan dan minuman. Penerapannya bisa membantu meningkatkan daya saing. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Revolusi Industri 4.0 yang digalakkan pemerintah melalui Making Indonesia 4.0, dinilai memiliki banyak manfaat bagi industri. Termasuk bagi industri makanan dan minuman (mamin). Namun sampai saat ini, Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) mencatat bahwa perusahaan mamin yang telah menerapkan teknologi, masih sangat sedikit.

Padahal menurut Ketua GAPMMI Adhi S. Lukman, dengan mengimplementasikan teknologi ke dalam proses bisnis mamin, sebenarnya bisa sangat membantu peningkatan daya saing. Sebab, dari sisi produksi dapat menurunkan waste. Kemudian produksi dapat terpantau, dan logistik bisa lebih rapi.

"Dengan teknologi juga bisa memenuhi permintaan market berdasarkan kebutuhan spesifik konsumen. Baik itu demand lokal, regional maupun idividu," terang Adhi.

Lebih jauh ia menjelaskan, pengembangan industri juga bisa dengan memanfaatkan teknologi terkini. Utamanya untuk pengembangan produk dan inovasi. “Manfaatnya bagi industri kita sangat besar,” sambungnya.

Sementara, beberapa industri mamin di Indonesia sudah mulai menerapkan program  4.0 di beberapa lini usahanya. Hanya saja perusahaan mamin yang menerapkan 100 persen 4.0, memang belum nampak. Ada yang baru mulai dari bagian produksinya dulu, logistik, atau penjualannya.

"Beberapa memang sudah mulai menerapkan, tetapi belum sepenuhnya terintegrasi. Makanya Kemenperin membuat INDI 4.0 sebagai indikator menilai kesiapan perusahaan," paparnya.

Adhi memperkirakan, baru perusahaan yang besar-besar saja yang sudah memanfaatkan teknologi 4.0. Itu pun persentasenya masih kecil. "Sejauh ini industri mamin yang siap menerapkan Revolusi Industri 4.0 adalah perusahaan besar yang memiliki cukup modal. Tetapi kami terus mendorong perusahaan menengah hingga kecil untuk mengadopsi teknologi terkini juga sehingga dapat merasakan manfaat yang sama," jelasnya.

CEO PT Meeber Teknologi Indonesia Rudy Hartawan menjelaskan, persaingan industri mamin semakin ketat. Di era digital seperti sekarang, kompetisi tidak hanya dalam hal rasa dan penyajian produk saja. Namun juga persaingan eksistensi, viralisasi, dan keterikatan interaksi dengan pelanggan di sosial media. Karena itu, sektor kuliner sekarang didorong untuk mampu mengadopsi teknologi digital dalam menjalankan bisnisnya agar tidak kalah dengan kompetitor.

Berdasarkan temuan riset dari perusahaan media sosial asal Inggris, We Are Social, terungkap bahwa dari total 268,2 juta jiwa penduduk di Indonesia, 150 juta jiwa di antaranya telah menggunakan media sosial. "Maka dari itu, pelaku bisnis mamin, termasuk kuliner, harus agresif mengembangkan keberadaannya di dunia online. Karena peluangnya sangat besar," ujarnya.

Menurut Rudy, salah satu strategi yang mudah diterapkan dalam memanfaatkan layanan online adalah dengan bergabung bersama layanan pesan antar. Seperti Go Food ataupun Grab Food. Sebab, tidak bisa dipungkiri bahwa pesan antar online telah mengubah perilaku konsumsi masyarakat. Terutama pada bisnis kuliner. "Tren konsumen sekarang maunya yang praktis," terangnya.

Selain itu, yang terpenting adalah harus rajin update tentang produk kuliner di berbagai media sosial yang dimiliki. Karena pelanggan era sekarang lebih banyak mencari tahu produk makanan minuman melalui online. "Kemudian juga jangan lupa menerapkan alat pembayaran cashless yang sedang digandrungi oleh konsumen," ungkap Rudy.  (cin/opi)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia