Sabtu, 20 Jul 2019
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Dirayu Diberi Es dan Uang, Korban Lima Kali Dicabuli, Libur saat Puasa

14 Juni 2019, 16: 55: 55 WIB | editor : Wijayanto

SEMPAT LIBUR: Kapolres Tanjung Perak AKBP Antonius Agus Rahmanto (dua dari kanan) menunjukkan barang bukti dan tersangka kasus pencabulan Sajemin alias Mat Sadin.

SEMPAT LIBUR: Kapolres Tanjung Perak AKBP Antonius Agus Rahmanto (dua dari kanan) menunjukkan barang bukti dan tersangka kasus pencabulan Sajemin alias Mat Sadin. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Fakta baru terungkap dalam kasus pencabulan yang kini ditangani penyidik Satreskrim Polres Pelabuhan Tanjung Perak. Tersangka pencabulan Mat Sadin alias Sajemin, 54, warga Jalan Bulak Banteng gang Anggrek, Kecamatan Kenjeran, mengaku sudah lima kali mencabuli korban. Aksi tersebut dilakukan mulai Februari hingga Juni 2019.

Dalam setiap aksinya, tersangka mengaku lebih dulu merayu korban SN, 13, yang juga anak tetangganya dengan memberi es dan uang. Meski hampir setiap bulan melakukan pencabulan dalam kurun waktu lima bulan itu, namun tersangka mengaku sempat istirahat di bulan Mei.

Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak AKBP Antonius Agus Rahmanto mengatakan, tersangka pertama kali melakukan pencabulan pada Februarti lalu. Kemudian dilanjutkan pada Maret, April, dan Juni. “Pada Mei, tersangka tidak melakukan pencabulan karena puasa,” terang kapolres saat rilis kasus ini kepada wartawan, Jumat (14/6).

Tersangka melakukan aksinya saat kondisi rumah kontrakan sepi. Tersangka yang bekerja sebagai pemulung dan berjualan es tinggal sendirian di kontrakannya. Sementara istri dan tiga anaknya yang masih berusia belasan tahun berada di Sampang, Madura.

Tersangka melancarkan aksinya pertama kali dengan mengajak korban yang rumahnya hanya berjarak tiga rumah dari rumah kontrakannya ke dalam kamar dengan alasan akan diberi es. Setelah di dalam kamar, tersangka mulai meraba-raba tubuh korban dan mencopot satu persatu pakaian korban hingga bugil dan mencabulinya. Setelah puas, korban diberi sejumlah uang agar tidak menceritakan ke orang lain.

Namun dari hasil visum yang dilakukan terhadap korban, ternyata tidak ada bukti penetrasi ke alat vital korban. “Jadi (tersangka) hanya di luar saja, tidak sampai masuk ke alat vital korban. Meski begitu, tersangka tetap salah. Apalagi korbannya anak di bawah umur dan Surabaya adalah kota ramah anak,” jelas kapolres.

Dari penyelidikan polisi, tersangka ternyata adalah seorang residivis kasus pembunuhan. Ia tercatat pernah melakukan aksi kriminalitas di wilayah Madura pada 1988 lalu. Tersangka kemudian divonis 11 tahun dan sudah menjalani hukumannya hingga 1997 dan dinyatakan bebas.

Pihak kepolisian juga melakukan penyelidikan terkait kemungkinan tersangka melakukan aksinya terhadap anak lain selain korban SN. “Ini masih kami selidiki, jika ada yang merasa menjadi korban tersangka segera melapor ke kami,” tegas AKBP Antonius. (gun/jay)

(sb/gun/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia