Jumat, 22 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya

Ajak Seniman THR ke Balai Pemuda, Kembalikan Fungsi Gedung Kesenian

14 Juni 2019, 08: 20: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

DIREVITALISASI: Warga berada tak jauh dari gedung kesenian di dalam kompleks Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya, Kamis (13/6).

DIREVITALISASI: Warga berada tak jauh dari gedung kesenian di dalam kompleks Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya, Kamis (13/6). (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Hingga kini para seniman yang tinggal di taman hiburan rakyat (THR) sedang menanti kejelasan relokasi oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Sejak 9 Mei lalu, gedung kesenian Pringgodani ditutup. Para seniman pun berlatih di luar gedung dengan peralatan seadanya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan (Disbudpar) Kota Surabaya Antiek Sugiharti mengatakan, para seniman tradisional ini telah diberi fasilitas di Balai Pemuda. Latihan dan pertunjukan bisa dilakukan di gedung bersejarah di Jalan Yos Sudarso itu.

“Kami tekankan bahwa gedung kesenian itu untuk aktivitas kesenian. Bukan malah dibuat untuk tempat tinggal. Kita kembalikan lagi. Kalau mereka punya rumah, ya monggo bisa tinggal di rumahnya masing-masing,” ujar Antiek kemarin.

Selama pengosongan gedung kesenian di THR, pemkot memberikan fasilitas di Balai Pemuda. Selain itu, pemkot juga menyediakan fasilitas transportasi untuk mobilitas para seniman dari Gedung Pringgodani di Jalan Kusuma Bangsa ke Balai Pemuda di Jalan Yos Sudarso. 

Menanggapi adanya permintaan seniman THR agar pemkot menjaga ketradisionalan gedung, Antiek menegaskan bahwa properti seharusnya disiapkan sendiri oleh masing-masing seniman. Sebab, setiap seniman punya karakter pementasan yang berbeda satu sama lain. 

“Masing-masing taste-nya kan beda. Enggak bisa harus disamakan. Pemkot menyediakan untuk mereka (seniman) satu-satu ya tidak bisa. Kalau fasilitas ini untuk berkesenian ya silakan. Jadi, kalau seniman mau menggunakan (gedung kesenian), ya harus mengikuti ketentuan-ketentuan dari pemerintah,” katanya.

Sementara itu, pembina Sanggar Putra Taman Hira, Sugeng Rogo Wiyono, meminta pemkot agar memberikan tempat yang berdekatan dengan THR agar mudah dijangkau.

"Jadi, kalau mau main biar tidak repot. Silakan kalau mau didandani, tapi nanti kalau bisa dijadikan satu lokasinya yang berdekatan. Stan-stan ini juga bisa dirapikan,” kata Sugeng yang biasa disapa Rogo, Kamis (13/6).

Rogo berharap fasilitas untuk seniman bisa lebih dimaksimalkan. Selain itu, pemkot juga harus tetap mempertahankan ketradisionalan tata letak panggung.

“Paling tidak seniman diajak rembuk untuk revitalisasi atau penataannya nanti. Back ground-nya, dekorasinya, dan lain-lainnya itu kalau bisa pakai yang masih manual dan harus dipertahankan,” ujar Rogo. (gin/rek)

(sb/gin/jek/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia