Sabtu, 16 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Features Sidoarjo
Menengok Pendaftaran Offline PPDB SMA 2019

Kerjakan 375 Soal, Siswa Inklusi Butuh Waktu Tiga Jam

13 Juni 2019, 15: 42: 13 WIB | editor : Wijayanto

SEMANGAT: Ratna Mufi da (kiri) koordinator siswa inklusi SMAN 1 Wonoayu menuntun Sasikirana Ana Bela Dwi Yanti (tengah) saat mengerjakan asses sment Penerimaan Peserta Didik Baru, Rabu (12/6).

SEMANGAT: Ratna Mufi da (kiri) koordinator siswa inklusi SMAN 1 Wonoayu menuntun Sasikirana Ana Bela Dwi Yanti (tengah) saat mengerjakan asses sment Penerimaan Peserta Didik Baru, Rabu (12/6). (RIZKY PUTRI PRATIMI/RADAR SURABAYA)

Share this      

Ratna Mufida begitu sabar membimbing calon siswa inklusi di SMAN 1 Wonoayu. Calon peserta didik baru jalur inklusi, harus mengerjakan 375 soal tambahan untuk assessment. Satu siswa inklusif, butuh waktu sekitar tiga jam.

RIZKY PUTRI PRATIMI / WARTAWATI RADAR SIDOARJO

Pendaftaran offline saat ini sedang berlangsung untuk calon peserta didik baru. Salah satunya bagi siswa inklusi. Sejak dibuka pada Selasa (11/6) kemarin, di SMAN 1 Wonoayu sudah ada tiga siswa inklusif yang terdaftar. Semuanya alumnus SMPN 2 Krian.  

Ratna Mufida sebagai koordinator guru bagi siswa inklusi bertugas menjaga loket pendaftaran. Selain membawa berkas, siswa inklusi harus mengerjakan 375 soal yang digunakan sebagai assessment tambahan.

Jenis soal yang mereka kerjakan sangat beragam. Mulai matematika, bahasa Indonesia, bahasa inggris, seni budaya, sejarah dan pengetahuan umum lainnya.  Satu anak butuh tiga jam untuk mengerjakan soal tersebut. Sehingga butuh ketelatenan untuk membimbing mereka.

Mereka yang datang dengan membawa berkas pendaftaran, kemudian diproses oleh Ratna. Setelah itu baru dilakukan assessment. "Untuk mengukur kemampuan dasar anak masuk kategori apa,” kata Ratna.

Dengan mereka mengerjakan soal seperti itu, pihaknya bisa melihat gangguan yang mereka alami itu ringan, sedang atau berat.

Rabu (12/6) di SMAN 1 Wonoayu ada satu siswa inklusi yang mendaftar, yakni Sasikirana Ana Bela Dwi Yanti alumni SMPN 2 Krian. Penyandang tuna grahita itu datang bersama sang ayah. Saat mengerjakan soal hingga butir ke 250, Bella sapaan akrabnya masih bisa berkonsentrasi. Mengerjakan soal tersebut tanpa bantuan sang ayah.

Tetapi setelah itu, konsentrasinya mulai terpecah. Beberapa kali, sang ayah harus membantu Bella menjawab soal.

Ratna juga ikut membantu bella. Bukan dengan memberikan jawaban, tapi memberikan pernyataan yang bisa memancing jawaban dari Bella.

Dari hasil assessment tersebut, Ratna menilai, bahwa Bella masuk dalam kategori inklusif sedang. “Melihat tulisannya bagus, jawabannya banyak yang benar,” imbuhnya.

Kesimpulan untuk hasil assessment Bella, orang tua harus sering mengajaknya berbicara. “Sedikit tertutup dan malu-malu mau ngomong. Di rumah lebih sering diajak komunikasi,” pungkas Ratna. (*/nis) 

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia