Senin, 20 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Sidoarjo

BBKP Bakar Hewan dan Tanaman Sitaan Senilai Rp 286 Juta

13 Juni 2019, 15: 34: 31 WIB | editor : Wijayanto

DIMUSNAHKAN:Petugas membakar barang bukti sarwa dan tumbuhan sitaan hasil tangkapan.

DIMUSNAHKAN:Petugas membakar barang bukti sarwa dan tumbuhan sitaan hasil tangkapan. (SATRIA NUGRAHA/RADAR SIDOARJO)

Share this      

SIDOARJO – Balai Besar Karantina Pertanian (BBKP) Surabaya memusnahkan sejumlah tumbuhan dan hewan pengganggu dengan total nilai Rp 286 juta, Rabu (12/6). Sejumlah Media Pembawa (MP) Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) dan Hama dan Penyakit Hewan Karantina (HPHK) itu merupakan hasil tangkapan selama periode bulan Januari hingga Mei tahun ini.

Kepala Badan Karantina Pertanian  Ali Jamil mengungkapkan, sejumlah burung dan tanaman yang dimusnahkan itu dikumpulkan dari 3 wilayah kerja BBKP Surabaya. Hasil tangkapan di wilayah kerja Kantor Pos Kediri berupa benih tanaman sayuran, buah, dan tanaman hias berat 2,675 kg, kurma 87,26 kg, gingseng 5,29 kg, jamur 8,79 kg, wijen 0,8 kg, bunga potong 0,1 kg dan lada biji 0,045 kg.

Untuk di wilayah kerja Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya diantaranya burung beo 4 ekor, burung murai batu 113 ekor, burung kacer 8 ekor, burung tledekan 72 ekor, burung cucak ijo 127 ekor, burung punglor 91 ekor, burung manyar 190 ekor, burung kolibri 3 ekor, burung cucak jenggot 1 ekor, burung kepodang emas 23 ekor, burung raja perling 7 ekor, dan burung tuwu 1 ekor.

Sementara untuk hasil tangkapan wilayah kerja Bandara Juanda Surabaya yaitu burung beo 6 ekor, burung murai 41 ekor, burung kacer 37 ekor, burung perkutut 6 ekor, burung cucak ijo 39 ekor, burung gagak 5 ekor, burung pugu 3 ekor, burung rangkok 1 ekor, burung manyar 3 ekor, ular 13 ekor dan geko 1 ekor. “Semuanya adalah hasil tangkapan periode bulan Januari hingga Mei 2019,” sebut Ali.

Ali menjabarkan, sejumlah benih dan tanaman yang disita itu merupakan hasil tangkapan barang ilegal yang masuk dari 12 negara. Di antaranya Malaysia, Hongkong, Arab Saudi, Perancis hingga Algeria. Biasanya selain memiliki masalah ijin administrasi, benih dan tumbuhan itu disita karena dinilai dapat merusak tanaman lain. “Kadang izinnya oke tapi mengandung penyakit,” sebutnya.

Contohnya, beberapa waktu sebelumnya Balai Besar Karantina juga sempat memusnahkan benih biji jagung dari India. Secara izin impor memang tidak bermasalah. Namun setelah dilakukan pengujian ternyata tanaman itu mengandung penyakit yang jika ditanam malah merusak tumbuhan.

Demikian halnya dengan sejumlah hewan yang dimusnahkan. Hewan yang berasal dari sejumlah daerah di Indonesia itu selain ada masalah administrasi juga karena berpenyakit. Sehingga langkah pemusnahan terpaksa harus dilakukan.

Ali menegaskan tindakan pemusnahan merupakan kewenangan dari Balai Karantina berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Oleh karena itu pihaknya akan terus melakukan pengawasan dan akan secara berkala melakukan pemusnahan jika mendapatkan barang bukti yang memang harus dimusnahkan.

Dalam kesempatan itu, Ali juga menghimbau kepada para importir agar lebih teliti dalam menyeleksi barang yang dibeli. Pengecekan kualitas barang dari negara asal harus benar-benar diperhatikan. Pasalnya jika ada indikasi mengandung penyakit akan berakibat fatal jika di tanam di Indonesia.

Dia juga meminta pemakluman kepada para pelaku impor jika pihak Balai Karantina terpakasa melakukan pemusnahan. Karena jika dibiarkan akan mengganggu kesehatan masyarakat. (son/nis)

(sb/son/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia