Sabtu, 16 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Gresik

Terimbas Black Campaign Sawit di Eropa, Ekspor Migor Turun

13 Juni 2019, 13: 52: 40 WIB | editor : Wijayanto

TURUN: Kegiatan produksi di area PT Wilmar Nabati Indonesia di Kebomas, Gresik.

TURUN: Kegiatan produksi di area PT Wilmar Nabati Indonesia di Kebomas, Gresik.

Share this      

GRESIK- Angka ekspor minyak goreng PT Wilmar Nabati Indonesia pada kuartal I/2019 mengalami penurunan hingga 40 persen. Turunnya ekspor karena pasar ekspor diketati akibat isu minyak sawit serta lesunya kondisi perekonomia global.

Direktur PT Wilmar Nabati Indonesia (WNI), Saronto mengakui, penurunan ekspor cukup membawa imbas pada bisnisnya. Untuk menyiasati ketatnya ekspor di Eropa, pihaknya mengembangkan pasar ke negara lain. “Selama ini Asia menjadi wilayah dengan tujuan ekspor yang paling tinggi. Angkanya mencapai 60 persen. Sisanya ke negara eropa dan afrika,” kata Saronto.

Dikatakan, adapun produk yang mendapatkan blackcampaign salah satunya adalah minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO). Akibat hal ini Wilmar terpaksa harus menurunkan kapasitas produksinya dari yang semula 8.000 ton perhari menjadi hanya 5.000 ton perhari.

“Adanya black campaign yang dilakukan terhadap produk CPO ini membuat kapasitas produksi kami tidak bisa full. Dari jumlah plant yang ada, saat ini kami hanya arround sekitar 60 persennya saja,” imbuhnya.

Saronto berharap peran besar dari pemerintah untuk memberikan perlindungan terhadap produk dari dalam negeri agar tetap bisa eksis di kalangan internasional. “Pemerintah selama ini sudah gencar melakukan kampanye dan sosialisasi di negara-negara barat bahwa minyak sawit ini bukan sebuah hal yang buruk. Justru sawit bisa menghasilkan ribuan produk turunan olahan,” pungkasnya. 

Di tempat yang sama, General Affair PT Wilmar Nabati Indonesia, Andy Mahmud mengungkapkan, latar belakang produk CPO asal indonesia di blackcampaign lantaran negara maju sudah mengetahui bahwa banyak kandungan dalam sawit yang bisa diolah.

“Secara umum mereka (Uni Eropa, Red) bisa dikatakan takut apabila produk yang selama ini mereka buat digantikan oleh sawit. Ketakutan bersaing inilah yang membuat kami di-blackcampaign dengan isu tidak ramah atau peduli terhadap lingkungan,” imbuh Andi. (fir/ris)

(sb/fir/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia