Minggu, 16 Jun 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya
Diduga karena Punic Buying

Pemprov Bentuk Satgas Khusus Atasi Kelangkaan LPG

10 Juni 2019, 16: 37: 07 WIB | editor : Wijayanto

Kadis ESDM Setiajit

Kadis ESDM Setiajit (DOK/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Sejak sebelum Lebaran, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur memastikan stok elpiji aman. Namun, di sejumlah daerah ternyata elpiji tabung ukuran tiga kilogram ini mengalami kelangkaan. Harganya pun naik tajam.

Dari pantauan Radar Surabaya, sejumlah daerah yang mengalami kelangkaan elpiji melon antara lain Tulungagung, Trenggalek, Blitar, Malang, dan wilayah Tapal Kuda seperti Bondowoso, Situbondo, dan Jember.

Kenaikan harga hingga mencapai Rp 25 ribu dan Rp 26 ribu. Meskipun mahal, warga tetap membeli karena sudah menjadi bagian dari kebutuhan sehari-hari.

Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral Jatim Setiajit mengatakan, suplai elpiji ke setiap agen sejatinya aman. Bahkan, 623 agen yang ada di Jatim tidak mengambil masalah pasokan elpiji melon. Stok cukup selama libur Lebaran. “Masih ada sisa 250 ribu tabung elpiji 3 kg yang tidak diambil oleh agen,” katanya.

Meski begitu, pemprov membentuk satuan tugas (satgas) khusus untuk memantau ketersediaan elpiji. Hasilnya, stok elpiji dipastikan aman. “Sudah kita cek di setiap agen dan pangkalan. Bahkan, harga jualnya normal, yakni Rp 16 ribu sampai Rp 17 ribu,” jelasnya.

Mantan Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jatim ini mengimbau masyarakat agar tidak perlu khawatir. Pasalnya, hingga kemarin stok elpiji yang disiapkan untuk wilayah Jatim mencapai 219 ribu MT (metric ton). “Meski konsumsi meningkat, stok bahan bakar itu melebihi kebutuhan. Selain itu, kenaikan konsumsi tak mempengaruhi ketersediaan elpiji,” paparnya.

Meskipun stok elpiji di agen maupun pangkalan aman, dia tidak menutup mata ada kemungkinan praktik penimbunan pada tingkat retail. Di Jatim ada 28 ribuan retail.

“Nah, kemungkinan permainan harga dan penimbunan ini ada di retail. Kalau agen atau pangkalan bisa kita tindak tegas. Salah satunya dengan mencabut izinnya. Tapi kalau yang retail ini tidak bisa,” katanya.

Selain itu, Setiajit menyebut banyak masyarakat yang mengalami panic buying. Khawatir tidak kebagian elpiji melon, mereka membeli dalam jumlah banyak. Ada juga masyarakat yang tidak seharusnya menggunakan elpiji melon, tapi masih menggunakan.

“Elpiji tiga kg itu seharusnya diperuntukkan bagi warga kurang mampu. Tapi, realitanya banyak juga masyarakat yang kaya masih menggunakannya. Inilah yang menyebabkan jatahnya masyarakat kurang mampu ini berkurang,” pungkasnya. (mus/rek)

(sb/mus/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia