Rabu, 23 Oct 2019
radarsurabaya
icon featured
Features Surabaya
Rekreasi Kota Kolonial ala SHT

Mengenal Gaya Hidup Orang Eropa di Kota Surabaya

10 Juni 2019, 16: 32: 51 WIB | editor : Wijayanto

MAKANAN BARAT: Graha Es Krim Zangrandi yang dulu jadi tongkrongan warga Eropa di Surabaya.

MAKANAN BARAT: Graha Es Krim Zangrandi yang dulu jadi tongkrongan warga Eropa di Surabaya. (ISTIMEWA/HOS)

Share this      

Bagaimana orang Eropa menikmati kehidupan di Surabaya saat era kolonial Belanda dulu, House of Sampoerna  menggelar program tematik tur Surabaya Heritage Track (SHT) yang kali ini mengangkat tema Rekreasi Kota Kolonial yang akan digelar hingga 30 Juni mendatang.

Ismaul Choiriyah –Wartawan Radar Surabaya

Dengan alasan  heterogenitas penduduk dan untuk menghindari konflik, sistem pemukiman berdasarkan golongan etnis (dan lapisan sosial) diterapkan di Surabaya pada zaman penjajahan Belanda.

Pemukiman Belanda dan Eropa terletak di sekitar Jembatan Merah dan Simpang, yang kemudian berkembang ke arah Selatan, Keputran dan sekitarnya.  Sementara pemukiman orang-orang Tionghoa  dan Timur Asing di sebelah timur kawasan Jembatan Merah, dengan orang-orang Tionghoa  di kawasan Kembang Jepun, Kapasan dan Pasar Atom, sementara orang-orang Arab di kawasan permukiman sekitar Masjid Ampel.

Pemukiman ini membuat pembangunan di Surabaya kala itu pun disesuaikan dengan masyarakat yang ada. SHT yang diadakan selama tanggal 7–30 Juni 2019 itu mengajak masyarakat untuk melihat serta mengunjungi tempat wisata seperti kawasan Jalan Tunjungan, Balai Pemuda di Jalan Gubernur Suryo No 15, serta Graha Es Krim Zangrandi di Jalan Yos Sudarso No. 15, yang semuanya diperuntukkan bagi orang Eropa.

pada masa kolonial, Surabaya merupakan kota yang semarak dengan ragam sarana hiburan bagi warganya. Utamanya setelah kawasan Boven stad (kota bawah) di sekitar Ketabang, Darmo dan Gubeng dikembangkan menjadi areal hunian bagi orang-orang Eropa.

Surabaya menjadi meriah dengan aneka restoran, bioskop, hotel, pusat perbelanjaan dan klub dansa, bagi mereka yang ingin bersosialisasi atau sekedar melepas penat di ujung hari.

Tunjungan straat dikenal sebagai pusat komersil kota. Diwarnai deretan pertokoan seperti Whiteaway Laidlaw, Hoen Kwee Huis dan lainnya. Kawasan ini makin menarik antusiasme warga dengan adanya trem yang melintas.

Urusan makanan pun tidak kalah semarak. Renato Zangrandi’s Ijsplais, Grimm and Co maupun Hellendoorn, memenuhi selera para elit Eropa dengan roti, pastri, maupun Rijsttafel yang sangat populer kala itu bisa dinikmati di Graha es krim Zangrandi, yang sekarang masih ada di Jalan Yos Sudarso.

Renato Zangrandis Ijsplais, Grimm and Co dibangun oleh Renato Zangrandi pada 1930 memenuhi kebutuhan warga Eropa yang ada di Kota Surabaya pada waktu itu. Dulunya, graha  es krim ini bernama Renato Zangrandis Ijspaleis.

Sebagian dari menu-menu yang dijajakan saat ini juga telah ada sejak 1930. Misalnya saja es krim potong Tutti Frutti, yang merupakan menu original paling tua di Zangrandi yang dijajakan dalam berbagai varian rasa es krim yang dicampur dengan potongan buah kering.

Klub elit untuk berdansa dan menonton pertunjukkan pun tak pernah lengang. De Simpangsche Societeit (Balap Pemuda) di sudut Jalan Simpang menjadi andalan para elit Eropa untuk berkumpul.

Tur tematik SHT diselenggarakan pada periode-periode tertentu guna memperkenalkan sejarah kota Surabaya serta berbagai bangunan dan kawasan yang memiliki nilai sejarah tinggi. Rekreasi Kota Kolonial dijadwalkan setiap Jumat sampai dengan Minggu pada pukul 15.00 WIB. (*/rak)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia