Minggu, 16 Jun 2019
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Pesan Suami sebelum Kendat, "Lebih Baik Awakmu Mati, Aku yo Mati"

10 Juni 2019, 12: 47: 26 WIB | editor : Wijayanto

TANDA: Tulisan tangan diduga dari Sumardi tentang tewasnya dia dan istrinya.

TANDA: Tulisan tangan diduga dari Sumardi tentang tewasnya dia dan istrinya. (YUAN ABADI/RADAR SURABAYA)

Share this      

LALU, siapa pelaku pembunuhan atau pemukulan Rumiyah? Pertanyaan itu sempat menjadi pertanyaan polisi yang melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Namun, teka-teki itu mulai terkuak setelah petugas menemukan surat kematian. Surat itu diduga ditulis Sumardi sebelum ia tewas gantung diri. 

Wakapolsek Sawahan AKP Eko Sudarmanto mengatakan, usai kedua mayat dievakuasi, tim Inafis dan anggota Reskrim Polsek Sawahan melakukan penyelidikan. Pihaknya memeriksa sejumlah barang-barang atau benda yang mencurigakan di rumah kos itu. Nah, polisi menemukan petunjuk berupa surat yang berisi pesan kematian di kamar korban. 

“Surat itu ditulis di tengah-tengah buku dengen ditandai menggunakan bolpoin warna hitam,” ungkap Eko

Dalam pesan yang ditulis di buku warna ungu tersebut, Sumardi menyatakan tak terima dengan kelakukan istrinya, Rumiyah, yang diduga memiliki pria idaman lain (PIL). Ungkapan itu ditulis dengan bahasa Jawa. Berikut pesannya:

“Aku mbok kongkon  nang Mojokerto, awakmu ndek Suroboyo gendakan. Daripada aku mbok gawe loro ati. Lebih baik awakmu mati aku yo mati." (Kamu meminta aku tinggal di Mojokerto, sedangkan dirimu di Surabaya justru berselingkuh. Daripada kamu bikin aku sakit hati. Lebih baik kamu mati begitu pun aku, red)."

Dari pesan itu, polisi menduga kuat jika pelaku pembunuhan Rumiyah itu adalah suaminya sendiri, yakni Sumardi. Diduga, Rumiyah dibunuh dengan cara dipukul kepalanya dengan batu. Lalu, karena frustrasi usai membunuh istrinya, Sumardi pun akhirnya nekat gantung diri.

“Itu dugaan awal kami. Namun, hingga saat ini, kami masih melakukan pendalaman.  Kami juga masih menunggu hasil otopsi dari pihak rumah sakit,” ujar Eko.

Selain di TKP, polisi juga memeriksa sejumlah saksi yang tinggal tak jauh dari rumah kedua korban. Mereka menyatakan, pasutri tersebut baru sekitar dua bulan menempati rumah itu. Mereka masih tertutup sehingga warga tak tahu banyak soal kedua korban.

“Hanya saja, para saksi sering mendengar mereka cekcok. Diduga karena hadirnya orang ketiga,” tendas Eko.

Menurut Eko, hadirnya orang ketiga itu sempat diceritakan oleh Sumardi kepada salah satu saksi bernama Nardi. Seminggu lalu, Sumardi berkeluh kesah jika istrinya memiliki PIL. Hal yang sama juga dinyatakan saksi Ratnawati.

“Katanya cemburu dengan istrinya lantaran sering ditinggal pergi ke simpanannya,” ujarnya. (yua/rek)

(sb/yua/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia