Sabtu, 14 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Ngaku Bujangan, Pura-Pura Lupa kalau Sudah Punya Gandengan

30 Mei 2019, 02: 05: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Menikahlah karena cinta. Jangan menikah karena wajah, harta, jabatan, apalagi perjodohan. Kalau tetap ngeyel, siap-siaplah menjalani rumah tangga yang bubrah di tengah jalan, seperti yang dialami pasangan Karin, 24, dan Donwori, 25, ini.

ISMAUL CHOIRIYAH-Wartawan Radar Surabaya

Menikah masih dalam hitungan bulan, pasangan Karin dan Donwori lebih banyak cekcoknya daripada adem ayemnya. Bukan karena persoalan ekonomi, wong keduanya berasal dari keluarga super mapan. Karin sendenane betonan, sementara Donwori sendenane kayu jati.

Juga bukan karena keduanya tak punya pekerjaan yang mapan. Meskipun masih muda dan baru setahun-dua tahun lulus kuliah, Karin sudah jadi manager keuangan di perusahaan konveksi miliki keluarga besarnya. Sementara Donwori seorang owner event organizer (EO) yang skalanya sudah lumayan besar.

Nah, pekerjaan Donwori inilah yang jadi pangkal persoalan bagi Karin. Kata perempuan bertubuh mungil ini, suaminya itu kebablasan ngurusi EO-nya. “Sampe bojo dewe wis gak diurusi. Aku iki gak direken blas, Mbak,” keluh Karin ditemui Radar Surabaya di sebuah kantor pengacara di kawasan tengah kota, pertengahan puasa lalu.

Karin mengenang, ia kepincut dengan Donwori karena wajahnya. Katanya, ada ‘rasa’ Korea-Koreanya. Putih, bersih, dan agak sipit. Mirip Lee Dong Wook. “Pokoke Mas Wori (Donwori, Red) iku paling nggantheng sak kampusku,” kenang Karin, tersipu malu.  

Tapi, semua itu sudah jadi masa lalu bagi Karin. Ternyata ia tak mengenal Donwori luar dalam. Begitu menikah, Donwori diakui Karin tak semanis wajahnya. Suaminya itu justru sosok laki-laki cuek bebek yang lebih mementingkan diri sendiri daripada orang lain, apalagi istrinya.

Karin bercerita, belum genap enam bulan dadi manten anyar, ia sudah sering ditinggal. “Jare ono garapan nok Malang, Mediun, Bali. Mbuh ngendi maneh, aku sampek gak apal. Wektu kuwi aku sih percoyo ae,” akunya

Sekali mengerjkan  event di luar kota, Donwori perginya rata-rata sekitar tiga hari. Yang bikin Karin marah-marah karena Donwori nggak mau ngajak dia, meskipun event-nya sering digelar di akhir pekan. “Jare gak enak ambek papa-mamaku. Mosok kerjo kok bolak-balik mbolos,”  lanjutnya.

Rupanya itu cuma alasan Donwori saja untuk ngeles dari Karin. Ternyata Donwori nggak mau orang lain tahu jika ia sudah tak bujangan lagi. Apalagi dari cewek-cewek cantik yang sering ia temui kalau ada event di luar kota.

“Ngertiku gak sengojo, Mbak.  Pas ngopi ambek koncoku kuliah, eh adike koncoku iku kaget nek Mas Wori kuwi ternyata bojoku. Soale  ngakune sik bujangan,” cerita Karin dengan sangat kesal.

Pulang dari ngopi, Karin pun menumpahkan kekesalannya pada Donwori.  Lha kok suaminya itu santai-santai saja menerima kekesalan Karin. “Malah aku ditinggal metu, dekne enak-enak ngopi. Yo jelas aku tambah ngamuk,” curhat Karin.  

Pertengkaran seperti itu tak sekali dua kali terjadi. Hampir tiap minggu, ada saja persoalan  yang menyulut kemarahan Karin dan Donwori. “Ancen kebacu,t kok. Nduwe bojo tapi ora tau diurusi. Nek ngene terus, yo mending pisah ae. Mumpung sik enom, sik rung nduwe anak,” pungkas Karin yang mantap habis Lebaran nanti akan mendaftarkan gugatannya ke Pengadilan Agama (PA) Klas IA Surabaya. (*/opi) 

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia