Rabu, 17 Jul 2019
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Sidoarjo

Diduga Lepas Pengawasan, Balita 2 Tahun Tewas Tenggelam

Di Sungai Mangetan Kanal Balongbendo

28 Mei 2019, 13: 38: 34 WIB | editor : Wijayanto

RUMAH DUKA: Keluarga sangat berduka setelah korban ditemukan.

RUMAH DUKA: Keluarga sangat berduka setelah korban ditemukan. (HENDRIK MUCHLISON/RADAR SIDOARJO)

Share this      

SIDOARJO - Seorang balita laki-laki tewas tenggelam di Sungai Mangetan Kanal, Dusun Melati RT 09/RW 03, Desa Jeruk Legi, Kecamatan Balongbendo, Senin (27/5) malam. Korban adalah Khoirul Rafkah Piajio, 2, anak warga setempat.

Kasat Reskrim Polsek Balongbendo Iptu Kinaryo menceritakan, anak dari Khoirul Anam, 35, itu ditemukan tewas sekitar pukul 23.15. Sebelum tewas, malam itu korban sedang menemani orang tuanya memperbaiki mobil di halaman rumah.

Saat sedang fokus memperbaiki mobil, orang tua korban tidak mengetahui jika anaknya berjalan menuju ke sungai. Ia baru tahu anaknya tidak di tempat saat tidak ada jawaban ketika dipanggil. "Berkali-kali dipangil tapi tidak ada jawaban," kata Kinaryo.

Panik dengan kejadian itu, orangtua korban langsung mengajak ayahnya (kakek korban, Red) melakukan pencarian. Kakek korban curiga jika cucunya tenggelam ke sungai karena melihat ada percikan air di dinding sungai. "Ada dinding sungai yang basah," sebutnya.

Kemudian, kakek dan ayah korban langsung menyisir sekitar sungai tersebut. Ayah korban semakin terkejut lantaran melihat anaknya sudah dalam posisi mengambang di sungai. "Ditemukan sekitar 150 meter dari lokasi rumah korban," imbuh Kinaryo.

Korban juga sempat dilarikan ke poliklinik desa setempat. Sayangnya, nyawa korban sudah tidak tertolong.

Kinaryo menambahkan, dari pemeriksaan awal, memang tidak ditemukan adanya tanda kekerasan di tubuh korban. Selain itu, pihak keluarga korban juga tidak berkenan dilakukan otopsi terhadap tubuh korban.

Selepas dari poliklinik, Selasa pagi (28/5), jasad korban langsung dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) setempat. "Keluarga sudah ikhlas dan dianggap sebagai musibah," pungkasnya. (son/jay)

(sb/son/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia