Selasa, 18 Jun 2019
radarsurabaya
icon featured
Sidoarjo

Cukupi Kebutuhan Ramadan-Lebaran, Bulog Sediakan 621.899 Ton Beras

23 Mei 2019, 22: 58: 08 WIB | editor : Wijayanto

MELIMPAH: Pekerja saat mengangkat karung berisi beras di Gudang Bulog Banjarkemantren Buduran untuk disalurkan ke beberapa kota di Jawa Timur.

MELIMPAH: Pekerja saat mengangkat karung berisi beras di Gudang Bulog Banjarkemantren Buduran untuk disalurkan ke beberapa kota di Jawa Timur. (SATRIA NUGRAHA/RADAR SIDOARJO)

Share this      

SIDOARJO - Bulog memastikan stok beras di Jawa Timur selama Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri aman. Tercatat 621.899 ton beras masih tersimpan di gudang Bulog. Sehingga masyarakat tidak perlu khawatir terhadap kebutuhan beras selama hari raya. Pernyataan itu disampaikan Direktur Operasional Bulog Tri Wahyuni Saleh saat menerima kunjungan Komisi VI DPR-RI di Perum Bulog Subdivre Surabaya Utara, Kamis (23/5).

Tri memaparkan, ketersediaan beras dinilai lebih dari 66. Pasalnya stok beras yang ada itu dapat memenuhi kebutuhan hingga akhir tahun ke depan. “Ditambah lagi sekarang lagi musim panen, jadi stoknya aman sekali,” sebutnya.

Khusus di Jatim sendiri, pembelian beras mencapai 3 ribu hingga 4 ribu ton per hari selama musim panen ini berlangsung. Sehingga upaya itu semakin menstabilkan harga beras di pasaran.

Selain memiliki 621 ribu ton beras di Jatim, Bulog juga memiliki sejumlah stok kebutuhan logistik lain. Diantaranya, gula sebanyak 1.614 ton, jagung pakan 88.944 ton, minyak goreng 50.109 liter dan tepung terigu 9.849 kilogram.

Tri menambahkan, pihaknya juga sudah melaksanakan serangkaian tindakan antisipasi untuk menjaga kualitas beras meski dalam kurun waktu yang lama disimpan di gudang. Salah satunya selalu menjaga sirkulasi udara di gudang-gudang penyimpanan tersebut. “Kualitas pasti mengalami penurunan, namun tetap kita antisipasi,” terangnya.

Sementara itu, Azam Asman Natawijaya, Ketua tim kunjungan dari Komisi VI DPR RI menyebutkan bahwa pihaknya menaruh perhatian terhadap daya beli masyarakat.

Dia menilai bahwa daya beli masyarakat mengalami penurunan meskipun ketersediaan barang dipasaran terjamin. “Daya beli masyarakat lemah meskipun barang ada,” terangnya.

Dia berharap ada perhatian kusus dari pihak pemerintah menyelesaikan persoalan tersebut. Diharapkan ada singkronisasi kebijakan yang tidak merugikan BUMN khsusnya Bulog ketika menerima tugas untuk menstok bahan pangan.

“Ini kewajiban pemerintah untuk meningkatkan daya beli masyarakat,” pungkasnya. (son/nis)

(sb/son/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia