Rabu, 23 Oct 2019
radarsurabaya
icon featured
Features Sidoarjo
Menengok Situs Alas Tarik (3)

Melihat Miniatur Majapahit Kuno Lewat Terakota

23 Mei 2019, 17: 00: 27 WIB | editor : Wijayanto

BERNILAI SEJARAH : Agus Subandriyo saat menunjukkan beberapa pecahan Terakota

BERNILAI SEJARAH : Agus Subandriyo saat menunjukkan beberapa pecahan terakota. (LUKMAN ALFARISI/RADAR SIDOARJO)

Share this      

Selain penemuan artefak berupa batu pondasi bangunan dan batu lumpak, beberapa artefak lainnya seperti koin, gerabah hingga terakota juga banyak ditemukan. Kini, artefak dengan pelbagai jenis dan ukuran itu, tersimpan rapi di sebuah museum desa.

Lukman Al Farisi-Wartawan Radar Sidoarjo

BEBERAPA temuan artefak di kawasan Desa Kedungbocok Kecamatan Tarik, rupanya menyimpan banyak misteri. Salah satunya penemuan terakota. Terakota merupakan bongkahan bangunan mini dengan berbagai ukiran di dalamnya.

Beberapa ukiran tersebut terlihat menyerupai gapura hingga candi. Banyak yang mempercayai bongkahan terakota itu merupakan miniatur bangunan seperti candi, gapura hingga genteng sebuah bangunan.

“Ini menunjukkan, bahwa situs alas trik bukan sekedar situs pemukiman biasa,” kata salah satu anggota Garda Wilwatikta, Agus Subandriyo.

Agus bercerita, dalam penemuan beberapa artefak itu, tidak muncul begitu saja. Setidaknya ada 6 komunitas yang terlibat. Selain komunitas pecinta sejarah dan budaya, ada juga komunitas spiritual.

Awalnya, komunitas spiritual yang datang hanya bersemedi untuk mencari kesaktian. Ada pula yang mencari benda pusaka seperti keris. Namun, Agus mengaku, komunitas-komunitas itu akhirnya diminta untuk turut membantu memecahkan misteri penemuan artefak di kawasan itu.

“Mereka tugasnya mencari tahu melalui spiritualnya, sedangkan saya mencoba memvisualisasikan,” terang pria penyuka lukisan kuno itu.

Kini, dari 6 komunitas yang ada, hanya tersisa dua komunitas. Di antaranya Garda Wilwatikta dan Paguyuban Putra Kedathon Mojopahit. Keduanya kini terus berusaha merawat artefak-artefak yang tersimpan di museum desa itu.

“Kami berharap pemerintah agar membuat perda cagar budaya, sehingga ini benar-benar menjadi aset penting,” pungkasnya. (bersambung/rud)

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia