Selasa, 18 Jun 2019
radarsurabaya
icon featured
Features Surabaya

Berkarya dengan Puisi untuk Self Healing

22 Mei 2019, 14: 16: 39 WIB | editor : Wijayanto

KREATIF: Chendra Mitra Affandi

KREATIF: Chendra Mitra Affandi (ISTIMEWA)

Share this      

Menulis sepertinya merupakan hal yang mudah. Namun untuk menjadi seorang penulis agar tulisannya enak dibaca dengan memberi bumbu bahasa,  di setiap tulisan misalnya menulis puisi bukan perkara yang bisa dipelajari dalam satu hari.

Herninda Cintia Kemala Sari-Wartawan Radar Surabaya

MELALUI  tulisan seseorang dapat mengekspresikan kesedihan bahkan kebahagiaannya. Saat kita sedih dan ingin menangis, tetapi tidak dapat menangis, kita bisa langsung menulis. Setelah itu, perasaan lega mungkin akan langsung menghampiri. Karena menulis itu membahagiakan.

Gambaran seperti inilah yang dirasakan oleh penulis puisi, Chendra Mitra Affandi. Laki-laki yang biasa disapa Cema ini mengaku, ia memilih untuk menulis karena merasa dirinya tidak pernah didengar di dunia nyata.

Selama ini tujuan Cema menulis puisi untuk self-healing dan ingin didengar orang lain saja. Namun karya-karyanya mampu mengantarkan Cema menjadi juara satu di Pekan Seni Mahasiswa Regional (Peksiminal) dan melenggang di Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) 2016.

Meski gagal membawa piala saat Peksiminas di Kendari, Cema tidak akan melupakan pengalaman yang didapatnya. "Waktu lomba itu, sebelum nulis puisi, malamnya aku keliling kota dulu cari inspirasi," katanya.

Laki-laki kelahiran Surabaya, 30 September 1995 ini biasa menulis, khususnya menulis puisi. Namun juga seringkali, puisi-puisi yang ditulisnya ini mirip dengan lirik lagu. Sehingga tidak jarang ia menulis lirik lagu untuk dirinya sendiri.

Di sisi lain, menurut bassist @hyenas.official ini, selalu ada cerita suka duka dalam menekuni hoby menulis puisi. "Sukanya itu ada kepuasan dalam diri sendiri, karena akhirnya aku bisa 'ngomong', meskipun cuman sepintas aja lewat ke kepala orang, karena ini nyambung ke dukanya, puisi ya cuma puisi bagi kebanyakan orang yang nggak nyemplung di sastra, ya nggak lebih dari "wah kata-katanya keren" abis itu udah," terangnya.

Namun demikian, laki-laki lulusan Sastra Indonesia Universitas Airlangga ini mengaku selama ini dirinya tidak pernah membatasi tulisannya.  "Cuma kebanyakan kalau aku nulis sesuatu, biasanya aku selimutin dengan hal lain.  Misal nulis tentang sosial, aku ngangkatnya lewat kisah roman, atau bisa sebaliknya," tuturnya.

Hal ini dilakukannya karena ia merasa puisi-puisinya bukan tipe puisi yang dibaca di tempat umum di depan orang banyak, juga bukan tipe puisi yang dimuat koran. "Jadi selama ini ya aku simpen sendiri tulisanku. Dan yang jadi triggerku nulis puisi kebanyakan itu adalah seorang tokoh fiktif yang aku bikin sendiri gabungan dari orang-orang yang pernah aku temui, dan aku jatuh cinta sama tokoh ini, hahaha. Aneh emang," katanya lalu  tertawa.

Karena dalam menulis puisi, baginya ada hal yang tidak bisa dilupakan, yakni perasaan ketika menulisnya. "Kalau makna mungkin tiap baca bisa berubah-ubah, kalau perasaan yang diinget waktu nulisnya itu tetep, sama ingatan tentang momen nulis itu biasanya muncul waktu baca puisi-puisi sendiri yang udah lama," jelasnya.

Tapi kebiasaan Cema menulis puisi ini hanya terjadi ketika dirinya banyak pikiran saja. Karena ketika dirinya sedang santai-santai saja, ia akan kesusahan untuk menulis. "Harus banyak beban dulu," ujarnya.  (*/rak)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia