Rabu, 19 Jun 2019
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

AWAS! Komplotan Pengedar Upal Gentayangan Manfaatkan Momen Lebaran

22 Mei 2019, 13: 48: 34 WIB | editor : Wijayanto

UANG PALSU: Petugas menunjukkan barang bukti dan tersangka kasus uang palsu yang diamankan di Mapolsek Genteng.

UANG PALSU: Petugas menunjukkan barang bukti dan tersangka kasus uang palsu yang diamankan di Mapolsek Genteng. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Masyarakat harus lebih waspada terhadap peredaran uang palsu (upal). Sebab, kebutuhan uang baru jelang Lebaran dimanfaatkan jaringan pengedar upal. Terbukti, polisi menangkap empat pengedar upal jelang Lebaran ini.

Keempat tersangka pengedar upal tersebut ialah MS, 45, US, 52, warga Desa Bringinbendo, Kecamatan Taman, Sidoarjo. JW, 47, warga Kebalenan, Banyuwangi, serta AS, 50, warga Dukuh Kupang. Mereka ditangkap setelah terlibat dalam peredaran upal senilai Rp 50 juta.

Kapolsek Genteng AKP Anggi Saputra Ibrahim mengatakan, penangkapan sindikat upal tersebut berawal dari informasi masyarakat tentang adanya transaksi upal di Surabaya. Polisi kemudian menindaklanjutinya dengan melakukan penyelidikan dan menyaru sebagai pembeli (undercover buyer).

"Dari sana kami amankan MS di kawasan Jalan Menanggal," ungkapnya. Dari tangan MS, disita barang bukti upal senilai Rp 50 juta dengan pecahan Rp 100 ribu senilai hampir 310 lembar dan sisanya pecahan Rp 50 ribu.

"Berdasar keterangan MS, kami berhasil menangkap tiga tersangka lain," tambah alumnus Akademi Kepolisian (Akpol) 2007 itu.

Anggi mengatakan, upal yang dimiliki oleh para tersangka memiliki kualitas cukup baik. Sebab, sepintas uang tersebut tampak asli. Bahkan, saat diterawang, terdapat tanda air (water mark) layaknya uang asli. Kemudian pita pengaman uang juga ada. “Kalau sepintas memang susah membedakan,” jelasnya.

Meski demikian, uang palsu itu tetap tak sempurna. Hal itu akan terasa jika upal itu dipegang dan diraba. Tekstur kertas upal itu terasa lebih tebal dan halus. Tak seperti kertas uang asli. Kemudian jika diperhatikan warna uang tersebut juga terlihat pudar.

“Pokoknya tetap ada bedanya antara upal dan uang asli. Ketika dipegang akan terasa bedanya,” ujarnya.

Mantan Kapolsek Dukuh Pakis itu juga menyebut, dari hasil pemeriksaan  pemeriksaan terungkap, uang palsu tersebut sedianya akan disebarkan setiap menjelang Lebaran. Saat disinggung terkait pembuat uang palsu itu, para tersangka mengaku tidak mengetahui lokasinya. "Mereka transaksi seperti narkoba, yakni dengan cara diranjau," ungkapnya.

Anggi menyebut jika upal tersebut dijual dengan perbadingan satu banding dua. Artinya, jika pembeli hendak membeli upal Rp 20 juta, maka ia harus membeli seharga Rp 10 juta uang asli. “Kami masih kembangkan kepada orang yang mencetak. Kami sudah ketahui identitasnya,” pungkas Anggi. 

Untuk keuntungan yang diambil dari penjualan uang tersebut, para tersangka mengaku masih belum bisa menentukan. Bahkan, belum mendapat sepeser uang pun. Hanya saja, setiap bendelnya jika terjual mereka akan diberi upah Rp 1 juta. “Namun, sejak menerima belum ada uang palsu ini yang laku,” ungkap MS. (*/rek)

(sb/yua/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia