Jumat, 24 Jan 2020
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Polisi Kejar Pelaku Penipuan yang Nyaru Pensiunan Bank

20 Mei 2019, 22: 42: 32 WIB | editor : Abdul Rozack

ilustrasi

ilustrasi (jawapos.com)

Share this      

SURABAYA  - Tim Unit Resmob Satreskrim Polrestabes Surabaya masih mengejar pelaku penipuan dengan menyaru sebagai pensiunan bank. Penipuan dengan korban Picter Santoso itu diduga sebagai komplotan. Ani Rusiana diduga menjadi otak penipuan tersebut.

Dalam berita sebelumnya, tercatat dalam laporan polisi nama Allan Jones Kurniawan,47, Warga Jalan Bogowonto 41 RT 03/RW 01, Wonokromo, Surabaya sebagai pelapor. Namun belakangan, nama Allan sama sekali tak ada kaitannya dalam kasus ini. Korban sebenarnya adalah Picter. 

"Allan bukan sebagai pelapor dalam kasus ini, tapi kasus yang lain," ungkap Kanit Resmob Satreskrim Polrestabes Surabaya, Iptu Bima Sakti. 

Hal itu juga dibenarkan oleh kuasa hukum Allan, Jimmi Lamhot, SH. Saat ditemui beberapa waktu lalu, Jimmi mengatakan ada kesalahan penulisan dalam laporan polisi itu. Menurutnya, kliennya sama sekali tak tahu menahu soal kasus ini. 

"Memang kami ada laporan ke Polrestabes. Tapi bukan kasus ini," ungkapnya saat ditemui di Hotel Elmi beberapa waktu lalu.

Sedangkan laporan tersebut dibuat Picter sekitar akhir Maret lalu. Picter melaporkan Ani Rusiana lantaran ia diduga kuat terlibat dalam kasus penipuan itu. Dalam laporannya, Picter mengaku sudah ditipu Rp 69 juta. Uang tersebut diberikan korban sebagai uang "pemulus" untuk membantu mencairkan dana pengjuan kredit di bank senilai Rp 1,2 Miliar.

"Uang itu rencananya akan korban gunakan untuk pembiayaan pembukaan usaha baru," ungkap Bima.

Bima mengatakan kasus dugaan penipuan itu berawal ketika korban ingin mengajukan pinjama kredit sebagai modal usaha. Kemudian, korban dikenalkan seorang perempuan yang bernama Ani Rusiana. Wanita itu disebut sebagi salah satu pensiuan yang bisa membantu pengajuan kredit itu.

"Wanita yang dikenalkan terlapor itu menyanggupi permintaan korban. Hanya saja ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Korban harus membuka rekening baru. Selain itu, korban juga diminta uang Rp 69 juta untuk operasional," terang Bima.

Dalam pertemuan yang dilakukan di salah satu hotel di Surabaya itu, Ani mengatakan akan menyelesaikan proses pengejuan kredit usaha itu maksimal dalam sebulan. Namun hingga jatuh tempo, uang kredit usaha itu tak kunjung cair. Padahal korban sudah melunasi pembayaran yang diminta oleh pelaku.

"Karena curiga, korban berinisiatif menanyakan pengajuan kredit itu ke pihak Bank. Hanya saja pihak bank mengaku tak pernah menerima pengajuan kredit atas nama pelapor," ujar Bima.

Merasa dipermainkan, Picter lantas menguhubungi Ani. Hanya saja nomornya sudah tak aktif. Sedangkan Ani saat dimintai pertanggung jawaban mencoba cuci tangan. Ia berdalih tak tahu apa-apa atas kasus penipuan. Akhirnya Picter pun melaporkan kasus ini.

"Kami masih melakukan pengejaran terhadap para pelaku penipuan tersebut. Mereka lari ke luar kota," terang Bima. (yua/rud)

(sb/yua/jek/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia