Kamis, 17 Oct 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya
Bantah Berita Viral di Medsos

Praka Yudha Terkena Stroke Bukan Keracunan Makanan

17 Mei 2019, 16: 32: 44 WIB | editor : Wijayanto

PRESKON: Kadispen Kodam V BRW Kolonel Inf Singgih Pambudi Arianto menunjukkan hasil medis tim dokter RS Dr Soewandhi didampingi Kapolrestabes Surabaya Kombespol Sandi Nugroho dan Kapolres Perak AKBP Antonius Agus Rahmanto.

PRESKON: Kadispen Kodam V BRW Kolonel Inf Singgih Pambudi Arianto menunjukkan hasil medis tim dokter RS Dr Soewandhi didampingi Kapolrestabes Surabaya Kombespol Sandi Nugroho dan Kapolres Perak AKBP Antonius Agus Rahmanto. (ISTIMEWA)

Share this      

SURABAYA - Kabar di media sosial yang menyebut seorang anggota TNI Angkatan Darat bernama Praka Yudha Agnie Radesa pingsan akibat keracunan dan konon sengaja diracun saat menjaga kotak suara di PPK Kenjeran terbukti adalah kabar palsu alias hoax yang menyesatkan.

Hal ini ditegaskan oleh Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) Kodam V Brawijaya Kolonel Inf Singgih Pambudi Arianto, Jumat (17/5). “Kabar itu tidak benar. Sebaiknya sharing dulu dan tanyakan kebenaranannya sebelum mempercayainya,” katanya dalam jumpa pers di RSUD Dr Soewandhie bersama dengan tim dokter dan Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak AKBP Antonius Agus Rahmanto serta Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Sandi Nugroho.

Sebelumnya dalam postingan salah satu akun medsos menyebutkan jika seorang anggota Yon Arhanud VIII bernama Praka Yudha Agnie Radesa diketahui sempat pingsan dan tak sadarkan diri ketika melaksanakan pengamanan pemilu di Kecamatan Kenjeran, Kamis (16/5) sekitar pukul 13.00.

Kejadian ini menjadi viral di wilayah Jawa Barat dengan menyebutkan jika yang bersangkutan diduga keracunan atau diracun ketika mengonsumsi makanan sahur yang dibagikan sekitar pukul 03.00. Hal ini membuat para netizen berkomentar negatif merespons postingan tersebut.

Menurut Singgih, di medsos menyebut indikasi Praka Yudha diracun karena mulutnya keluar busa. Padahal, apa yang dialami anggota TNI AD tersebut murni karena medis. “Tidak ada kejadian karena keracunan atau diracun seperti kabar yang tersebar. Itu murni medis, karena sakit yang diderita. Kalau keracunan maka yang lain akan mengalami hal yang sama karena makanan yang dikonsumsi juga sama,” tuturnya.

Ia berharap tidak ada lagi hal yang seperti ini. Jika memang menemukan berita hoax, ia mengimbau untuk menanyakan langsung ke Kodam V Brawijaya. “Jangan sampai berita hoax ini semakin berkembang. Sharing dulu dan tanyakan kebenaranannya sebelum mempercayainya,” ujarnya.

Ia mengatakan, makanan yang dimakan pada saat sahur tersebut juga sudah dilakukan pemeriksaan oleh tim dokter. Dari pemeriksaan laboratorium tersebut tidak didapati zat-zat yang membahayakan seperti yang bisa meracuni tubuh Praka Yudha dan anggota lain yang mengonsumsinya pagi itu.

Dari keterangan dr Willy, dokter RSUD Soewandhie yang menangani korban mengatakan, saat ini kondisi Praka Yudha sudah sadar. Sebelumnya memang sempat tak sadarkan diri, namun saat ini mulai membaik.

Mengenai indikasi sakit yang diderita korban, ia mengatakan bukan akibat keracunan makanan melainkan terkena stroke pendarahan. “Korban agak cadel, mata kiri juga sedikit menutup. Hasil CT Scan ada pendarahan di tepi batang otak. Ini merupakan bagian yang sangat vital karena memengaruhi kesadaran, kerja paru-paru dan jantung,” jelasnya.

Di tempat yang sama, Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak AKBP Antonius Agus Rahmanto mengatakan bahwa pihaknya mendukung penuh kesehatan anggota baik Polri maupun TNI saat melaksanakan pengamanan pemilu.

Ia juga mengimbau agar berita yang tidak valid dan bisa menceraiberaikan kerja sama TNI-Polri yang terjalin baik selama ini jangan sampai terjadi lagi. “Tentunya akan ada pidananya karena yang disebarkan berita yang tidak benar,” tuturnya. (gun/jay)

(sb/gun/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia