Selasa, 25 Jun 2019
radarsurabaya
icon featured
Sidoarjo

Kebakaran Jadi Ancaman, Sebulan Ada 53 Kejadian

17 Mei 2019, 05: 05: 59 WIB | editor : Wijayanto

TINJAU TKP: Wakil Bupati Sidoarjo Nur Ahmad Syaifuddin (tengah) saat menijau lokasi kebakaran.

TINJAU TKP: Wakil Bupati Sidoarjo Nur Ahmad Syaifuddin (tengah) saat menijau lokasi kebakaran. (SATRIA NUGRAHA/RADAR SIDOARJO)

Share this      

SIDOARJO - Kebakaran di Sidoarjo terjadi hampir setiap hari pada sepekan terakhir. Menurut data yang dihimpun dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), angka kejadian kebakaran hingga bulan ini sudah mencapai 53 kejadian. Sebagian besar diduga disebabkan oleh hubungan pendek arus listrik. Meski ada juga yang disebabkan cuaca.

Kepala BPBD Dwidjo Prawito mengatakan, dalam tiga hari terakhir ada enam kejadian kebakaran. Kejadian terakhir menimpa pondok pesantren Jabal Noer di Kelurahan Geluran, Taman, Kamis (16/5).

Dwidjo menjelaskan, api berasal dari bagian belakang bangunan. Namun penyebab kebakaran belum bisa dipastikan. Menurut Dwidjo kemungkinan api disebabkan cuaca panas. "Kami pastikan lagi," ujarnya.

Dia menyebutkan, sebagai langkah antisipasi, nantinya ada pelatihan pencegahan kebakaran dini. Terutama di lembaga-lembaga swasta seperti pondok pesantren. Sehingga kebakaran serupa dapat dicegah.

Selain itu, pihaknya juga berencana akan membangun pos pemadan kebakaran di Kecamatan Taman. Lokasinya di Puspa Agro. Namun begitu, pihaknya kini masih melakukan persiapan rencana pembangunan itu. “Nanti ada pihak perusahaan yang akan mesupport penganggarannya,” ujarnya.

Wakil Bupati Sidoarjo Nur Ahmad Syaifuddin mengunjungi pondok pesantren Jabal Noer di Jalan Mangga RT 16 RW 02, Geluran Kecamatan Taman, Kamis (16/5) siang. Kunjungan tersebut untuk melihat kondisi terkini ponpes itu pasca terbakar pada Rabu (15/5) sore lalu.

Pria yang akrab disapa Cak Nur itu mengatakan agar seluruh pihak tetap menunggu hasil penyelidikan kepolisian terhadap penyebab kebakaran itu terjadi. Hal itu penting agar masyarakat dapat melakukan antisipasi dini terhadap kebakaran. 

Selain itu, pihaknya juga melakukan analisa terhadap dampak kerusakan yang terjadi. Nantinya dari analisa itu, pemkab akan memberikan bantuan dana. Namun begitu, Cak Nur mengaku dana untuk bantuan itu tidak terlalu besar.

Sementara itu, pengasuh ponpes Jabal Noer KH Husain Rifai Hamzah menceritakan, peristiwa kebakaran itu terjadi sekitar pukul 17.45. Api pertama kali terlihat di pojok asrama putra yang berada di lantai 2, tepatnya di kamar nomor 10. 

Pengasuh ponpes itu mengaku, saat peristiwa kebakaran terjadi, pihaknya sedang berada di Surabaya. Saat menuju pesantren, Husain melihat kerumunan warga berkumpul di sekitar pesantren.

Setelah ditanya, warga mengatakan bahwa terjadi kebakaran di belakang pesantren. Bahkan Husain mengira bahwa kebakaran itu benar-benar terjadi di belakang pesantren asuhannya itu. “Ternyata asrama yang paling belakang,” tuturnya.

Akibat kejadian itu, banyak kitab-kitab, Alquran hingga pakaian santri yang ludes dilahap api. Selain itu, musala yang ada di depan asrama itu juga terlihat terbakar. Namun begitu, tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu.

Sementara itu, ratusan santri di ponpes itu langsung dipulangkan ke kediamannya masing-masing sejak Rabu malam. “Kalau enggak dipulangkan ya orang tuanya pada ribut ke sini,” katanya. (far/nis)

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia