Selasa, 25 Jun 2019
radarsurabaya
icon featured
Sidoarjo

Khofifah Panen Melon Kotak dan Hati Bersertifikat Prima

16 Mei 2019, 13: 19: 13 WIB | editor : Wijayanto

PANEN: Khofifah saat memanen melon di UPT PATPH Sidoarjo.

PANEN: Khofifah saat memanen melon di UPT PATPH Sidoarjo. (SATRIA NUGRAHA/RADAR SIDOARJO)

Share this      

SIDOARJO – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa didampingi Wakil Bupati Sidoarjo Nur Ahmad Syaifudin memanen melon bersertifikat prima di UPT Pengembangan Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPT. PATPH) di Desa Lebo, Kecamatan Sidoarjo.

Khofifah mengatakan, dirinya ingin membandingkan nilai tambah antara jenis melon super dengan jenis melon bersertifikat prima. Namun melon dengan sertifikat prima itu modalnya lebih banyak dibanding melon jenis super.

Namun begitu, melon yang bersertifikat prima tersebut, kata Khofifah pasarnya lebih menjanjikan dibandingkan dengan melon jenis super. “Apalagi dengan inovasi bentuk melon yang bervariasi,” katanya.

Sebab, melon berwarna gold itu dapat dikembangkan menjadi beberapa bentuk. Selain bulat, melon jenis prima juga dapat berbentuk hati dan kotak. Sehingga keunikan bentuk melon tersebut menjadi salah satu daya tarik tersendiri.

Bahkan harga melon prima itu harganya lebih mahal tiga kali lipat dibanding dengan harga melon super. Jika melon super harganya mencapai Rp 6 ribu perkilo, maka harga melon prima mencapai Rp 18 ribu perkilogram.

Dia menambahkan, jika melon itu diberi sentuhan hiasan seperti pita, maka sudah bisa masuk pasar dengan nilai tambah. “Oleh karena itu, inovasi sektor Hortikultura saya rasa harus terus dilakukan,” terangnya.

Apalagi kata Khofifah saat ini angka kemiskinan pedesaan di Jatim masih 15,2 persen. Sehingga, pemprov ingin memaksimalkan lokasi yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi baru melalui upaya serupa.

Khofifah mencontohkan, di Kecamatan Plumpang Kabupaten Tuban, banyak kalangan muda yang justru tertarik masuk di sektor pertanian, khususnya di bidang melon. Bahkan nilai tambah bertani melon lebih banyak daripada bercocok tanam padi.  “Siapa tahu nanti juga banyak tertarik bercocok tanam melom,” ujarnya.

Sementara itu, kepala Dinas Pertanian Jatim Hadi Sulistyo mengatakan, pertanian di UPT. PATPH tersebut dilakukan secara modern. Beberapa tanaman yang ada di kawasan itu berada di dalam screen house yang dilengkapi irigasi tetes.

Jumlah tanamannya pun mencapai 3.412 tanaman yang berada di lahan seluas 3.200 meter persegi. “Untuk melon itu dibudidayakan dengan berpedoman pada standar operasional prosedur budidaya yang baik,” katanya. (far/nug)

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia