Minggu, 16 Jun 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

16 Korban Bom di Surabaya Dapat Santunan Rp 1,1 Miliar

16 Mei 2019, 11: 07: 50 WIB | editor : Wijayanto

PERHATIAN: Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Sandi Nugroho mengunjungi Ipda Akhmad Nurhadi, salah satu korban bom, Rabu (15/5).

PERHATIAN: Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Sandi Nugroho mengunjungi Ipda Akhmad Nurhadi, salah satu korban bom, Rabu (15/5). (YUAN ABADI/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Sebanyak 16 korban peledakan bom di Surabaya tahun lalu mendapat santunan dari pemerintah pusat. Total santunan mencapai Rp 1,1 miliar. Bantuan tersebut diserahkan Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Hasto Atmojo Suroyo di Gedung Negara Grahadi, Surabaya.

Besaran santunan bervariasi antara Rp 20 juta sampai Rp 605 juta. Salah satu penerima santunan adalah Ipda Achmad Nurhadi. Anggota Polsek Gubeng itu bertugas di Gereja Santa Maria Tak Bercela, Ngagel Madya, Surabaya, Minggu pagi (13/5/2018). Ahmad mengalami patah tulang di kedua kakinya dan buta permanen akibat aksi bom bunuh diri itu.

Menurut Hasto, kompensasi untuk korban aksi terorisme tersebut sesuai dengan UU Nomor 5 Tahun 2018. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan LPSK memberikan perhatian khusus kepada para korban tindak pidana terorisme seperti bom bunuh diri. “Ini tindak pidana baru dan kompensasi ini juga hal yang baru,” katanya.

Hasto menambahkan, kompensasi Rp 1,1 miliar itu tidak akan bisa memenuhi semua kebutuhan korban akibat peristiwa tragis itu. Tapi setidaknya negara telah hadir dan memberikan perhatian kepada para korban. LPSK juga memberikan rehabilitasi medis pada korban dan psikologis. “Pemprov Jatim diharapkan bisa menambah anggaran untuk korban terorisme,” katanya.

Di tempat yang sama, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyatakan siap memberikan bantuan terapi psikososial kepada korban ledakan bom di tiga gereja di Surabaya dan Polresta Surabaya setahun lalu. Apalagi, ada korban yang masih duduk di bangku SMP. “Kita semua punya tanggung jawab untuk memberikan perlindungan kepada seluruh warga bangsa,” tuturnya.

Terkait kompensasi yang diberikan pemerintah pusat, menurut Khofifah, merupakan bentuk kehadiran pemerintah menyapa dan melindungi warganya. “Tragedi terorisme setahun lalu mengingatkan kita untuk saling menghormati, menghidupkan, urip iku gawe urup. Sehingga hal-hal yang mencederai, apalagi sampai menghilangkan nyawa, harus kita hindari,” tegasnya. (mus/rek)

(sb/mus/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia