Jumat, 20 Sep 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Waspadai Uang Palsu, Polisi Sidak Jasa Penukaran Uang Baru

15 Mei 2019, 17: 00: 22 WIB | editor : Wijayanto

ANTISIPASI: Polisi berdialog dengan penjual jasa penukaran uang dan warga yang ada di Jalan Pahlawan, Surabaya, Selasa (14/5).

ANTISIPASI: Polisi berdialog dengan penjual jasa penukaran uang dan warga yang ada di Jalan Pahlawan, Surabaya, Selasa (14/5). (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Meski Lebaran masih lama, jasa penukaran uang baru sudah mulai bermunculan. Mereka terlihat di Jalan Veteran, Jalan Pahlawan, dan Jalan Bubutan, Surabaya. Keberadaan mereka membuat polisi merasa perlu mengantisipasi peluang munculnya tindak pidana. Mulai dari peredaran uang palsu (upal) hingga perampasan.

Sejumlah polisi pun memeriksa lapak-lapak tempat jasa penukaran uang baru itu, Selasa (14/5). Mereka memberikan imbauan sekaligus pemeriksaan keaslian uang yang dipajang para pedagang. "Kegiatan ini sebagai langkah antisipasi peredaran upal," ujar Kasat Binmas Polrestabes Surabaya Kompol Muhammad Fatoni.

Dalam pemeriksaan kemarin, petugas tak menemukan adanya upal. Meski demikian, Fatoni tetap meminta para pedangang untuk waspada terhadap pelaku kejahatan. Misalnya, hanya memajang contoh uang baru. "Dipajang satu lembar saja. Lainnya disimpan agar tidak jadi sasaran kejahatan," ungkapnya.

Fatoni menerangkan, penyedia jasa penukaran uang cukup rawan menjadi korban kriminalitas. Di antaranya, penipuan dan perampokan. Lapak-lapak di pinggir jalan raya membuat potensi kejahatan cukup terbuka. "Bukan tidak mungkin pengendara yang sedang melintas langsung merampas uang yang dipajang," katanya.

Polisi dengan satu melati dipundaknya tersebut juga mengimbau warga yang hendak menukarkan uang bisa lebih waspada. Minimal memeriksa keaslian dan menghitung ulang uang yang ditukarkan. "Diperiksa dengan teliti. Jangan sampai rugi karena yang didapat adalah uang palsu," tegas Fatoni.

Salah satu penyedia jasa penukaran uang baru Andik, 43, mengaku sudah belasan tahun melakoni bisnis tahunan itu. Pria yang sehari-sehari bekerja sebagai kuli bangunan itu tak menampik risiko yang dihadapi sebagai penyedia jasa penukaran uang baru. "Selain memiliki sinar ultraviolet, pemeriksaan manual juga perlu.  Diseleksi dengan teliti dan tidak ceroboh kalau ada yang tukar," ungkapnya.

Pria kelahiran Flores itu menyebut harga tukar uang bervariasi. Bergantung pada nominal uang. Untuk pecahan Rp 2.000 dengan total Rp 100 ribu, misalnya, dia mendapatkan keuntungan Rp 15 ribu.

Sementara itu, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur Yudi Harymukti memperkirakan kebutuhan uang tunai di Jatim sebesar Rp 33,4 triliun. Di Kota Surabaya sendiri kebutuhannya sekitar Rp 17,1 triliun atau meningkat 14,77 persen dari tahun lalu.

Yudi meminta masyarakat tidak khawatir dengan pasokan uang tunai selama Ramadan hingga Idul Fitri. BI Jatim juga telah melakukan koordinasi dengan perbankan dan pihak terkait lainnya untuk memberikan layanan penukaran uang kepada masyarakat. (yua/cin/rek)

(sb/yua/cin/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia