Selasa, 25 Jun 2019
radarsurabaya
icon featured
Gresik

Banjir Kali Lamong Rugikan Petani dan Petambak Rp 78 M

15 Mei 2019, 08: 46: 19 WIB | editor : Wijayanto

JADI REBUTAN: Puluhan warga setiap hari menangkap ikan dari tambak yang lepas akibat terjangan banjir.

JADI REBUTAN: Puluhan warga setiap hari menangkap ikan dari tambak yang lepas akibat terjangan banjir. (DOK/RADAR GRESIK)

Share this      

GRESIK – Banjir yang melanda wilayah Gresik selatan beberapa waktu lalu menyisakan derita bagi para petani dan petambak. Bagaimana tidak, akibat terjangan banjir selama lebih dari satu pekan kerugian yang mereka alami mencapai puluhan miliar rupiah.

Dari hasil pendataan yang dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gresik total lahan persawahan yang mengalami kerusakan mencapai 1.601,1 hektar.

Rinciannya, untuk wilayah Balongpanggang sebanyak 255 hektar dengan nilai kerugian mencapai Rp 7,6 miliar.

Kemudian, di Kecamatan Benjeng total areal persawahan yang diterjang banjir mencapai 786,1 hektar dengan nilai kerugian mencapai Rp 23,5 miliar.

Selanjutnya, Kecamatan Cerme total areal persawahan yang diterjang banjir mencapai 419 hektar dengan niali kerugian sebesar Rp 12,5 miliar.

Kecamatan Menganti sebanyak 111 hektar dengan nilai kerugian Rp 3,3 miliar dan Kedamean 30 hektar dengan nilai kerugian Rp 900 juta. “Untuk areal persawahan total kerugian yang dialami para petani sekitar Rp 48 miliar,” ujar Kepala BPBD Gresik Tarso Sugito.

Kemudian, untuk total areal pertambakan yang mengalami kerusakan akibat diterjang banjir mencapai 1,027 hektar. Rinciannya, Kecamatan Cerme total lahan tambak yang rusak sebanyak 1007 hektar dengan nilai kerugian sebesar Rp 30 miliar.

Kemudian, Kecamatan Duduksampeyan yang total lahan tambak yang rusak sebanyak 20 hektar dengan nilai kerugian sebesar Rp 600 juta. “Jadi totalnya ada sekitar Rp 30 miliar,” imbuhnya.

Sementara itu, terkait kerugian cukup besar yang dialami para petambak dan petani ini baru Dinas Pertanian (Dispertan) yang menyiapkan skema bantuan. Untuk petani yang padinya mengalami puso karena banjir akan mendapatkan bantuan. “Iya akan kami ajukan ke provinsi bantuannya,” ujar Kadispertan Eko Anandito.

Sedangkan dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Gresik belum bisa memberikan bantuan terhadap para petambak yang merugi. Sebab, untuk anggaran bencana tidak boleh lagi dimasukkan di anggaran DKP.

“Untuk nomenklatur bencana, kami sudah tidak bisa menganggarkan lagi,” ujar Kepala DKP Gresik Choirul Anam. (rof/ris)

(sb/rof/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia