Jumat, 20 Sep 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi
Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur

Antisipasi Ijon, Siapkan Dana Hulu Hilir untuk Kelompok Petani Kopi

14 Mei 2019, 21: 48: 07 WIB | editor : Wijayanto

SOLUSI: Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jatim, Ir Karyadi, MM (tengah) didampingi Kabid Tanaman Tahunan, Puji Astuti, SP, MMA (kanan) dan Kasie Kredi

SOLUSI: Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jatim, Ir Karyadi, MM (tengah) didampingi Kabid Tanaman Tahunan, Puji Astuti, SP, MMA (kanan) dan Kasie Kredit Program Bank UMKM Jatim, Hendra Darmawan (kiri) membahas pemberdayaan kelompok petani kopi. (ISTIMEWA)

Share this      

JEMBER - Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur mengadakan Pertemuan Teknis Pengembangan Usaha Tani Tanaman Kopi. Kegiatan dengan tema Penguatan Kelompok dalam Rangka Penangan Pra Panen ini diikuti 150 peserta dari kelompok petani kopi, petugas pendamping kegiatan pengembangan kopi di kabupaten, Asosiasi Petani Kopi Indonesia (APEKI) Kabupaten dan Jawa Timur. Pertemuan ini berlangsung di Hotel Meotel Jember by Dafam.

Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur, Ir Karyadi, MM menjelaskan, kegiatan ini menindaklanjuti program Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa berupa Jatim Agro. Program Jatim Agro meliputi menanam, memetik, mengolah, mengemas hingga menjual hasil usaha tani dalam satu kelolaan kelompok tani. 

“Di dalamnya, sebenarnya sudah  termasuk meningkatkan nilai tambah dari pengolahan dan penjualan,” jelasnya.

PENGURUS BARU: Pengukuhan Pengurus Asosiasi Petani Kopi Indonesia (APEKI) Jawa Timur Periode 2019-2024 oleh Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur, Ir Karyadi, MM (tengah).

PENGURUS BARU: Pengukuhan Pengurus Asosiasi Petani Kopi Indonesia (APEKI) Jawa Timur Periode 2019-2024 oleh Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur, Ir Karyadi, MM (tengah). (ISTIMEWA)

Seperti diketahui sekarang ini kopi lagi banyak peminat dan ngetren. Di mana bertebaran kedai kopi mulai di perkampungan hingga mall dan hotel berbintang.  

"Jadi ngopi sudah menjadi lifestyle.  Karena itu, perlu ada upaya untuk meningkatkan nilai tambah bagi petani kopi," ujar Karyadi saat ditemui di ruang kerjanya, kemarin. 

NILAI TAMBAH

Di acara yang bersamaan dengan reformasi pengurus APEKI Jawa Timur ini, Karyadi mengingatkan agar petani kopi tidak menjual dengan sistem ijon. 

“Artinya, kopi di kebun belum matang optimal sudah dijual ke pedagang karena petani terdesak butuh uang,” kata Karyadi didampingi Kepala Bidang Tanaman Tahunan, Puji Astuti, SP, MMA.

Memang, lanjut Karyadi, kondisi pra panen petani kopi menjadi perhatian Gubernur Khofifah, orang nomor satu di Jawa Timur. 

“Jangan sampai petani kopi menjual secara ijon. Jangankan nilai tambah, yang ada di situ kerugian. Kita ingin petani kopi mempunyai nilai tambah mulai dari pengolahan. Minimal kopi dijual premium ose, roasting hingga bubuk,” tegas Karyadi bersemangat.

Tentunya bila kopi dijual ijon, harganya murah dibanding dijual dalam bentuk premium ose. Untuk mengantisipasi ijon dan meningkatkan nilai tambah petani kopi, Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur menghadirkan berbagai narasumber dalam pertemuan petani kopi tersebut. 

“Saya menghadirkan narasumber dari Bank UMKM sebagai penyedia dana  program hulu hilir untuk pemberdayaan petani kopi. Tujuannya agar kelompok petani kopi mampu mengakomodir kebutuhan anggota,” ujar lelaki asal Banyuwangi ini.

Konkretnya, lanjut Karyadi, dengan dana hulu hilir, maka kelompok petani bisa membeli kopi milik petani yang terdesak kebutuhan biaya sehingga terhindar dari penjualan ijon. “Ketika kelompok tidak mampu membeli, ya petani menjual dengan sistem ijon,” ujar penghobi tenis lapangan ini.

Karyadi menegaskan dengan dana hulu hilir di kelompok tani bisa meningkatkan nilai tambah bagi petani kopi. “Sehingga produksi kopi anggota tidak lari ke orang lain. Yang awalnya kopi dijual dalam bentuk glondong, bisa  diolah oleh kelompok, minimal dijual dalam bentuk premium ose,” paparnya.

Selain melibatkan perbankan, Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur juga menghadirkan narasumber yang membahas soal teknis dan entrepreneur yang memaparkan cara mengemas dan membranding produk. “Ada juga narasumber yang piawai di market ekspor,” jelas Karyadi.

Ia menambahkan, petani kopi diharapkan tidak melakukan usaha di hulu saja, melainkan juga di hilir. “Selama ini petani hanya memproduksi biji kopi. Sedangkan, usaha hilir dinikmati oleh pedagang dan pemilik warung kopi,” ujarnya.

Karena itu, lanjut Karyadi, kelompok tani harus bisa memanfaatkan dana hulu hilir tak hanya untuk membeli hasil kopi petani. Tapi juga untuk membeli alat sangrai, misalnya, supaya bisa meningkatkan nilai tambah usaha tani.

HULU HILIR

“Kelompok juga dibina agar bisa memproduksi kopi dalam bentuk bubuk hingga memiliki warung kopi sendiri,” jelasnya. Sebab nilai jual kopi sangat jauh harganya dibanding jika berupa bubuk.

“Harga kopi panen tahun ini untuk green bean kopi robusta Rp 22 ribu - 25 ribu per kilogram, arabika Rp 58 ribu - 62 ribu. Sedangkan harga kopi bubuk (ground coffee) di kisaran Rp 100 ribu - 150 ribu per kilogram,” rincinya.

Menurut Karyadi, perbedaan harga produk kopi yang tinggi juga disebabkan oleh faktor branding. “Misalkan oh.... itu kopi Bondowoso, kopi Dampit. Itulah pentingnya membranding produk,” katanya.

Seperti diketahui, komoditas tanaman kopi sangat potensial di Jawa Timur. Luas areal budidaya 106.845 hektare dengan produksi 66.618 ton. “Sedangkan produk yang diekspor mencapai 79.130 ton senilai USD 189.252.000,” pungkas Karyadi. (no/jay)

(sb/no/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia