Senin, 16 Sep 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Istri Suka Pelesir Pakai Uang Pinjaman

14 Mei 2019, 15: 36: 36 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Traveling belakangan ini memang sedang tren. Bukan untuk cari refreshing-nya, namun untuk memenuhi kewajiban pamer di sosial media. Mungkin ini juga yang ada di benak Karin, 31. Hingga mau saja pinjam sana-sini demi  jalan-jalan.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

"Punya istri boros, gak kenek diatur sisan. Prei ae, Mbak!" tegas Donwori, 39, ditemui Radar Surabaya di ruang tunggu sebuah kantor pengacara, yang berada di samping Pengadilan Agama(PA) Klas 1A Surabaya, kemarin siang (13/5). 

Dari prejengannya, Donwori bukanlah laki-laki sederhana. Simple tapi clean, dan rapi ala-ala eksekutif muda. Di antara jajaran mobil yang parkir di halaman PA, mobil Pajero-nya nampak paling kinclong di antara yang lain. Eh tapi, tapi, tapi..  dia tadi bilang menggugat cerai istri gara-gara boros? Boros seperti apa yang dimaksud Donwori ini ya? 

Penyebab keretakan rumah tangga Donwori adalah karena hobi Karin, istrinya, yang suka menghabiskan uang. Kata Donwori, Karin ini gemar pelesir ke luar negeri. Baru bulan lalu traveling ke Thailand, bulan berikutnya sudah bingung mau traveling ke Hongkong. Hongkong masih direncanakan, eh sudah ngomongin ingin menikmati bunga sakura di negerinya langsung. 

Sebenarnya, bagi seorang pengusaha besi dan furniture macam Donwori, biaya traveling itu tidaklah berat. Hanya saja, ya jangan keseringan. Donwori ingin istrinya lebih bijak dalam mengeluarkan uang. Apalagi traveling-nya bukan sama suami sendiri, malah nimbrung dengan saudara-saudaranya yang juga hidup hedonis. 

Sekali dua kali permintaan Karin, dituruti Donwori. Ia memberi izin pada Karin, juga uang selama perjalanan. Waktu itu liburannya juga dekat. Hanya ke Singapura. Selanjutnya, Karin mulai maniak liburan. Tanpa mendapat uang saku pun,  ia nekat berangkat. Uangnya dari mana? Dipinjami dana oleh keluarganya. 

Kalau sudah terlanjur begitu, mau tidak mau Donwori ya harus nomboki. Berkali-kali. "Aku kerja, paginyadia berangkat. Gak pamit. Muleh-muleh aku ditagih dulure. Kok pinter. Sing seneng-seneng deke, sing kon mbayar aku," cerita pria yang tinggal di kawasan Surabaya Barat ini, gemas. 

Yang terakhir, Donwori sudah hilang kesabaran. Sepulang liburan gerilya Karin dari Dubai, si saudara istrinya datang lagi untuk menagih. Kali ini nominalnya cukup besar. Paling tidak dari sudut pandang rakyat jelata. "Muleh-muleh nageh maneh Rp 200 juta, " lanjut Donwori, yang lagi-lagi mengaku jika uang sebesar itu masih sangat enteng buatnya. 

Saking entengnya, Donwori mau membayar lebih banyak. Syaratnya, waktu itu ia mengundang saudaranya itu ke rumah untuk mengambilnya secara cash. 

Datanglah si saudara Karin itu ke rumah. Namun, rupanya bukan uang yang Donwori berikan. Melainkan istrinya yang ia gunakan untuk membayar biaya liburan itu. Atau dengan kata lain, ia mengembalikan sang istri kepada keluarganya dengan cara yang tidak terhormat. "Tak wehno langsung. Nyoh. Lebih dari Rp 200 juta iki," jelas Donwori. 

Tak usah ditanya, tentu saja tindakan Donwori ini dianggap pelecehan. Saat itu juga, terjadilah perang keluarga. Yang diyakini Donwori terbesar sepanjang umurnya itu. Sejak saat itu juga, Donwori resmi menalak Karin secara agama. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia