Kamis, 20 Jun 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya
Hikmah Ramadan 1440 H

Puasa Media untuk Memperbaiki Diri

OLEH: Prof Dr Mohammad Nasih-Rektor Unair

13 Mei 2019, 17: 23: 04 WIB | editor : Wijayanto

Rektor Unair Prof Dr Mohammad Nasih

Rektor Unair Prof Dr Mohammad Nasih (DOK/RADAR SURABAYA)

Share this      

RAMADAN merupakan media yang disiapkan Allah SWT untuk continuous improvement atau perbaikan berkelanjutan bagi umatnya. Continuous improvement bukan hanya untuk memperbaiki diri pribadi, tetapi juga masyarakat, komunitas, bangsa dan negara. Artinya, kualitas kehidupan itu tidak hanya menyangkut kualitas habluminallah (hubungan kita dengan Allah), tetapi juga ada perbaikan kualitas habluminannas (hubungan kita dengan sesama manusia).

Setiap tahun kita punya media untuk memperbaiki diri. Berbagai macam kekurangan di tahun-tahun sebelumnya kita perbaiki, sehingga di tahun-tahun yang akan datang, seharusnya jauh lebih baik lagi kualitas hidup kita dan hubungan kita dengan masyarakat. Dalam Islam, habluminallah itu harus tecermin dalam habluminannas. Begitu pula sebaliknya.

Setiap muslim yang melakukannya memang lahir dari panggilan iman dan ketauhidan yang kuat sehingga membentuk solidaritas sosial yang kuat. Hal ini dapat menumbuhkan semangat solidaritas sosial, akan tercipta kehidupan sosial yang religius, bermoral, demokratis, harmoni, kebersamaan, toleransi, dan saling menjunjung tinggi martabat kemanusiaan tanpa diskriminasi.

Continuous improvement berfokus pada proses, dengan rentang waktu yang panjang. Momentum hijrah atau titik balik kesadaran hidup istikamah dalam menjaga iman dan amal justru membutuhkan kontinuitas dalam melakukan kebaikan-kebaikan kecil. Terus berbenah diri, melakukan kebaikan dan perbaikan secara terus-menerus.

Menjadi pribadi pembelajar dan organisasi pembelajar yang adaptif terhadap perubahan karena senantiasa melakukan kebaikan dan perbaikan. Karena kehidupan dan kematian sejatinya hanyalah ujian untuk melihat siapa yang konsisten lebih baik dalam beramal.

Selain itu, dalam Ramadan ini kita juga dibina untuk saling asah, asih, dan asuh di antara semua komponen bangsa dan negara. Tidak ada yang saling membenci, semuanya bersatu padu untuk saling membantu, untuk saling sayang menyanyangi. Sehingga tercipta kehidupan yang marhamah, kehidupan yang penuh kasih sayang sebagaimana sifat Allah SWT, rahman dan rahim.

Rahman dan rahim itu yang kemudian dilatihkan oleh Allah melalui bulan puasa ini, sehingga akan tercipta kehidupan yang sesuai dengan rahman dan rahim di antara kita semua. Dan itu baru bisa kita lakukan kalau individunya bersifat penyanyang, kasih sayang, dan saling kasih mengasih diantara sesamannya.  

Rahman dan rahim harus kita bumikan dalam bentuk perilaku umat sehari-hari. Kalau itu dilaksanakan, maka kehidupan berbangsa dan bernegara akan adem ayem, toto tentrem kerto raharjo. Akan tercipta Indonesia yang umatnya bersatu padu untuk kepentingan dan kemaslahatan umat manusia.

Bagi bangsa Indonesia, eksistensi, peran dan fungsi umat Islam sangat strategis. Di sinilah dibutuhkan karakter muslim yang ramah, konsisten menghargai pluralitas, serta mampu bekerja sama dengan komponen bangsa lain dalam membangun bangsa menuju terwujudnya Indonesia yang adil, makmur dan sejahtera. Karakter muslim seperti ini disebut dengan karakter muslim marhamah yang menghidupkan kembali ajaran Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin (penebar kasih sayang).

Puasa merupakan refleksi tujuan untuk menghidupkan integritas moral dan etik. Oleh karena itu, Ramadan merupakan bulan perjuangan untuk kebaikan, mengamalkan nilai-nilai kebaikan. Tingkatkan jiwa sosial kepada sesama, karena Rasulullah SAW, pada bulan Ramadan, lebih dermawan daripada sepoi angin yang bertiup. Kata beliau, "Barangsiapa yang memberi makan berbuka bagi yang berpuasa, maka pahalanya serupa dengan pahala yang berpuasa, tanpa mengurangi sedikit pun pahala yang berpuasa itu," (HR Ahmad dan Nasai).

Ramadan bukan hanya untuk mendapatkan pahala personal. Ramadan adalah upaya untuk meningkatkan intensitas sosial. Jangan sampai karena berpuasa, keinginan untuk menjalin silaturahmi antarsesama menjadi luntur walaupun pasca-Ramadan, bulan Syawal, identik dengan bulan silaturrahmi. Namun momentum Ramadan sebagai bulan ibadah juga harus tetap terjalin ikatan silaturrahmi dalam masyarakat. (rmt/rud)

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia