Selasa, 18 Jun 2019
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya
Kasus Pembunuhan di Tanah Merah, Kenjeran

Polisi Selidiki Kebenaran Surat Tugas Korban sebagai Wartawan

11 Mei 2019, 16: 00: 59 WIB | editor : Wijayanto

TAK PERCAYA: Wartawan berbincang dengan keluarga korban di kamar mayat RS dr Soetomo.

TAK PERCAYA: Wartawan berbincang dengan keluarga korban di kamar mayat RS dr Soetomo. (DOK/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Ada fakta lain yang ditemukan pihak kepolisian dari TKP kasus pembunuhan di Tanah Merah, Kenjeran, yakni rumah istri sirri korban, Soeprayitno, 53. Salah satunya adalah temuan surat tugas untuk korban yang mengatasnamakan media Suara Gegana Indonesia. Dalam surat tugas tersebut disebutkan jika korban merupakan koordinator lapangan untuk peliputan surat kabar mingguan tersebut.

Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak AKBP Antonius Agus Rahmanto menuturkan, mengenai profesi korban sebagai jurnalis pihaknya masih menyelidiki. Apakah yang bersangkutan merupakan wartawan atau yang lain harus diperiksa terlebih dulu oleh polisi.

“Kalau ada alamatnya (media), kami akan datangi dimana kantornya untuk memastikan kebenaran surat tugas tersebut. Kalau perlu kami panggil pimpinannya untuk dimintai keterangan terkait status korban,” katanya.

Pihaknya mengaku belum berani menduga-duga dalam hal surat tugas dan kaitannya dengan kasus ini. Apakah nantinya ada kaitan antara yang ditulis dengan kasus pembunuhan korban masih terus diselidiki terlebih dulu. “Kami masih dalami dulu,” tuturnya.

Sementara itu di kamar mayat RSUD Dr Soetomo, Radar Surabaya sempat bertemu dengan salah satu anak korban Yopi. Yopi merupakan anak dari istri pertama korban yang tinggal di Sidotopo Wetan. Sementara korban berada di Tanah Merah II tersebut adalah rumah istri sirri atau istri keduanya bernama Djumaliha.

Yopi mengaku tidak mengetahui jika bapaknya memiliki masalah dengan orang lain. Sejak menikah dengan istri keduanya lima tahun lalu, korban sudah tidak pernah berhubungan dengan anak-anaknya.

Bahkan anaknya terkejut saat mendapat informasi jika korban meninggal dunia karena carok. “Saya tahunya dari istri keduanya ini. Makanya saya langsung ke rumah sakit,” ujar pria berambut gondrong ini.

Ia mengaku tidak percaya jika bapaknya seorang wartawan atau sejenisnya. Sebelumnya, korban memang sempat menawari dia untuk gabung ke medianya tersebut namun ditolak. Penolakan ini didasarkan karena Yopi tidak percaya bapaknya seorang wartawan. “Selama ini kerja serabutan seperti makelaran, kok tiba-tiba jadi wartawan,” ungkapnya. (gun/jay)

(sb/gun/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia