Selasa, 25 Jun 2019
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya
Korban Diduga Bunuh di Tanah Kalikedinding

Tertutup Sejak Menikah dengan Istri Muda

Disebut Wartawan, Anak Korban Tak Percaya

11 Mei 2019, 06: 53: 00 WIB | editor : Wijayanto

TAK PERCAYA: Wartawan berbincang dengan keluarga korban di kamad mayat RS dr Soetomo.

TAK PERCAYA: Wartawan berbincang dengan keluarga korban di kamad mayat RS dr Soetomo. (GUNTUR IRIANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Dugaan pembunuhan terhadap Soeprayitno, 60, warga Jalan Sidotopo Wetan, Kenjeran, yang ditemukan tewas bersimbah darah dengan sejumlah luka senjata tajam di rumah istri mudanya di Jalan Tanah Merah II, Kelurahan Tanah Kali Kedinding, Kenjeran, masih dalam proses penyelidikan polisi.

Jenazah korban sudah dibawa ke kamar mayat RSUD Dr Soetomo menggunakan mobil jenazah milik Linmas Surabaya. Jenazah tersebut langsung dibawa masuk ke kamar mayat dan untuk dilakukan otopsi guna penyelidikan kepolisian.

Nampak dua anak korban dari istri pertama datang ke kamar mayat untuk menunggu proses otopsi. Mereka tampak gusar ditemani dua sepupunya di lorong kamar mayat.

Yopi, anak kedua korban tampak gusar menunggu kakaknya yang ada di dalam ruangan untuk mendapat penjelasan terkait kemungkinan otopsi. "Kita serahkan ke polisi saja mas. Kalau memang diotopsi ya mau bagaimana lagi," katanya.

Yopi mengaku sudah lima tahun ini jarang berkomunikasi dengan bapaknya. Sehingga ia tidak mengetahui pasti apakah bapak kandungnya ini ada masalah sebelumnya.

Hanya saja ia mendapat informasi sebelum kejadian, ada dua orang tak dikenal yang masuk menggeledah ke dalam rumah. Kemudian keluar begitu saja tanpa menemukan apapun.

Ia mengaku selama ini korban tertutup dan tidak pernah berkomunikasi sejak menikah lagi lima tahun lalu dengan istri keduanya secara siri. "Bapak tertutup sejak nikah dan tinggal dengan istri mudanya, Julaikah," kata pria berambut gondrong ini.

Saat ditanya mengenai status ayahnya yang terdaftar sebagai koordinator lapangan sebuah media lokal di Surabaya, ia tidak percaya. Ia mengakui korban pernah menyampaikan hal tersebut kepadanya, bahkan dia sempat diajak bergabung, namun ia tidak mau.

"Saya tahu ayah saya kerja serabutan makelaran. Bukan wartawan atau kerja di media, jadi saya tidak percaya," ujarnya. (gun/jay)

(sb/gun/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia