Senin, 17 Jun 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Revitalisasi Kota Tua Berlanjut Menata Pedestrian

11 Mei 2019, 09: 20: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

LENGKAPI FASILITAS: Kendaraan melintas di Jalan Karet yang sedang dilakukan pembangunan pedestrian di kawasan kota tua, Jumat (10/5)

LENGKAPI FASILITAS: Kendaraan melintas di Jalan Karet yang sedang dilakukan pembangunan pedestrian di kawasan kota tua, Jumat (10/5) (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

YOS SUDARSO – Revitalisasi kawasan Kota Tua Surabaya masih berlanjut hingga kini. Mulai dari pengecatan dan penataan pedestrian jalan kawasan yang akan digunakan sebagai destinasi wisata ini. 

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, kawasan itu akan menjadi maskot kota Surabaya. “Kita masih tata, nanti akan kita buat kawasan tersebut nyaman bagi pejalan kaki yang akan berwisata di wisata heritage ini. Nah nanti yang jadi maskotnya itu rumah abu yang ada di Jalan Karet,” kata Eri saat ditemui di Gedung DPRD Kota Surabaya, Jumat (10/5) sore.

Eri juga menjelaskan, wisata heritage di Jalan Karet dan Jalan Pangung akan terkoneksi dengan wisata air yang berlokasi di sisi utara Jembatan Merah. Selain itu, saat ini pihaknya juga masih melakukan koordinasi dengan Dinas Perhubungan (Dishub) Surabaya untuk menentukan dan penataan lahan parkir wisata baru Kota Pahlawan ini.

“Depannya sungai itukan ada juga lahan kosong yang di Jalan Karet. Ini masih kita rapatkan sama Dishub nantinya apakah bisa digunakan atau tidak,” jelas Eri.

Sementara itu penyelesaian pengecatan saat ini sudah merambah di Jalan selanjutnya. Di antaranya Jalan Veteran dan Jalan Kalimalang. Kepala Bidang Bangunan Gedung Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman Cipta Karya dan Tata Ruang (DPRKP-CKTR) Surabaya Iman Krestian menjelaskan, estimasi pengecatan akan bergantung dengan vendor yang mengerjakannya.

“Jadi tergantung suplai catnya juga, kalau pengecatan juga butuh kehati-hatian mengingat bangunan lawas ini kan juga terdapat banyak kabel yang melintang,” imbuhnya. 

Pewarnaan cat di kawasan Jalan Karet dan Jalan Kembang Jepun memiliki konsep yang berbeda. Pengecatan ini disesuaikan dengan keinginan dari masing-masing pemilik bangunan, namun tidak lepas dari jejak sejarah dilokasi tersebut.

“Jangan sampai nanti warga protes karena adanya revitalisasi ini, karena ini bangunan bukan milik pemerintah. Jadi pengecatannya juga harus hati-hati,” tutupnya. (gin/nur)

(sb/gin/jek/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia