Senin, 17 Jun 2019
radarsurabaya
icon featured
Features Sidoarjo
Menengok Masjid Tua Baitussolihin di Jabon

Jadi Tempat Beribadah Sekaligus Nostalgia dengan Mantan Tetangga

09 Mei 2019, 17: 07: 44 WIB | editor : Wijayanto

KENANGAN: Masjid Baitussolihin di Desa Kedungcangkring, Jabon.

KENANGAN: Masjid Baitussolihin di Desa Kedungcangkring, Jabon. (SATRIA NUGRAHA/RADAR SIDOARJO)

Share this      

Masjid Baitussholihin di Dusun Sawah, Desa Kedungcangkring, Kecamatan Jabon merupakan satu-satunya tempat ibadah yang masih berfungsi dan terawat di daerah terdampak semburan lumpur. Biasanya yang datang adalah mantan penduduk sekitar. Mereka bisa beribadah sekaligus bertemu dengan bekas tetangga mereka disini. 

SATRIA NUGRAHA-Wartawan Radar Sidoarjo

MASJID ini terletak di sisi selatan tanggul penahan lumpur dan berjarak kurang lebih 1 km dari pusat semburan. Kalau kita melewati jalur alternatif dari Desa Mindi Kecamatan Porong menuju Kecamatan Jabon, di kiri jalan pasti menemukan Masjid Baitussholihin yang mencolok.

Bagaimana tidak, masjid ini merupakan satu-satunya bangunan disana. Di sepanjang jalan yang dulunya dipenuhi rumah warga kini berubah ilalang. “Dulu disini merupakan pondok pesantren,” ucap tamir masjid Mudzakir (54) yang tinggal di timur kompleks masjid.

Dia adalah keturunan pengasuh pondok pondok pesantren ini. Mudzakir tidak tahu kapan pondok pesantren mulai berdiri. Sejak kecil, menurut dia pondok tersebut sudah berdiri. Dia hanya bisa mengingat dulunya Masjid Baitussholihin merupakan musala yang kemudian direnovasi. Kesan kuno masih nampak di sisi selatan Masjid. Yakni berupa sumur tua dan bangunan dua lantai yang awalnya dari kayu. Tempat wudlu persegi panjang yang cukup lebar juga masih berfungsi. 

Kesan kuno juga ditunjukan dengan masih adanya jam matahari di samping rumah Mudzakir. Dia lalu menjelaskan cara kerja jam ini menurut pergerakan sang surya. “Jam ini jam abadi. Waktu Salat Asar dan Dzuhur bisa ditunjukan dengan kemiringan cahaya dari besi di tengah ini,” terangnya.

Dia menambahkan kalau waktu Salat Subuh, Magrib dan Isya bisa dilihat dengan warna cahaya matahari.  Meskipun telah ditinggal warga sekitar, pada bulan Ramadan, masjid yang terletak di utara Sungai Porong ini masih rutin menggelar  salat tarawih. “Di hari pertama yang tarawih di sini sepuluh orang. Mereka dulunya adalah warga sekitar sini yang telah pindah,” kata Mudzakir.

Beribadah di masjid yang dulu dekat dengan tempat tinggal bisa jadi obat pelepas rindu. Salah satunya adalah Mustohid yang kini berumah di Bangil, Pasuruan. “Tahun lalu beberapa kali saya sempat salat tarawih di sini. Salat Idul Fitri juga disini” ujar bapak dua putra ini.  (sat/nis)

(sb/sat/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia