Minggu, 16 Jun 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Tertinggi Sejak 2016, Pertumbuhan Ekonomi Jatim Sentuh 5,51 Persen

06 Mei 2019, 16: 37: 54 WIB | editor : Wijayanto

SEKTOR PENDORONG: Pasien di IGD RSUD dr Soetomo. Cuaca ekstrem hingga menyebabkan banjir mendorong pertumbuhan sektor layanan kesehatan.

SEKTOR PENDORONG: Pasien di IGD RSUD dr Soetomo. Cuaca ekstrem hingga menyebabkan banjir mendorong pertumbuhan sektor layanan kesehatan. (DOK/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada triwulan I/2019 mencapai 5,51 persen dan tercatat sebagai pertumbuhan tertinggi sejak 2016.

Kepala BPS Jatim Teguh Pramono menuturkan, dilihat dari pertumbuhan years on years pada triwulan I/2018, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur mencapai 5,42 persen. Sedangkan pada triwulan I/2017 hanya tercatat sebesar 5,27 persen. "Angka 5,51 persen ini yang tahun terakhir, 2019, adalah angka terbesar," terang Teguh dalam konferensi pers di Surabaya.

Ia mengatakan, sektor pendongkrak kenaikan pertumbuhan ekonomi Jatim ada tiga jenis. Yakni, usaha kesehatan yang mencapai 7,86 persen, industri 7,28 persen, dan penyediaan makan serta minuman sebesar 6,87 persen. BPS mencatat, cuaca ekstrem hingga menyebabkan banjir di beberapa daerah di awal tahun, menjadi pemicu pertumbuhan lapangan usaha jasa kesehatan di kuartal I.

Sedangkan untuk industri, pertumbuhan masih didominasi oleh perusahaan pengolahan seperti makanan-minuman, tekstil, dan percetakan. Momen lebaran dan pemilu tampaknya mendorong tumbuhnya tiga industri tersebut di Jawa Timur. "Kalau kita lihat years on years dibanding tahun lalu, pertumbuhan terbagus di tiga jasa itu," tuturnya.

Meski tumbuh cukup bagus di years on years, menurut Teguh, untuk quartal to quartal tidak begitu menggembirakan. Dari kuartal IV/2018 ke kuartal I/2019, pertumbuhan ekonomi tipis di 0,13 persen. Tidak lebih tinggi dibanding dari kuartal IV/2017 ke kuartal I/2018 yang mencapai 0,26 persen.

Begitu pun dari kuartal IV/2016 ke kuartal I/2017 yang menyentuh 0,59 persen. "Dari Triwulan IV/2018 ke triwulan I/2019 ada kenaikan 0,13 persen, atau dari Rp 395,96 triliun menjadi Rp 396,47 triliun," ungkap Teguh.

Sementara untuk pendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi quartal to quartal adalah sektor pertanian, kehutanan dan perikanan yang paling tinggi. Sektor ini mampu tumbuh sebesar 14,81 persen.

Awal musim panen di kuartal I ini ditengarai menjadi penyebab meningkatnya bidang agro tersebut. "Kemudian pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang tunbuh 1,41 persen, dan jasa keuangan tumbuh 1,83 persen," ungkapnya. (cin/jay)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia