Kamis, 20 Jun 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Gresik

Kontraktor Keluhkan Sulitnya Sertifikasi Ahli

03 Mei 2019, 17: 56: 43 WIB | editor : Wijayanto

SERTIFIKASI: Aktivitas pekerjaan proyek risiko tinggi harusnya dikerjakan tenaga ahli.

SERTIFIKASI: Aktivitas pekerjaan proyek risiko tinggi harusnya dikerjakan tenaga ahli. (M FIRMANSYAH/RADAR GRESIK)

Share this      

GRESIK - Puluhan tenaga jasa kontruksi mengeluhkan sulitnya mengurus sertifikasi ahli. Ini menjadi kendala serius khususnya dalam era persaingan seperti saat ini. Untuk itu Pengurus Gabungan Pengusaha Kontruksi (Gapensi) Gresik mendesak pemerintah membantu kesulitan ini

Ketua BPC Gabungan Pengusaha Kontruksi (Gapensi) Gresik, Aman Makhrudi mengatakan, proses sertifikasi selama ini berjalan lambat. Itu terjadi lantaran kesadaran pelaku usaha konstruksi terhadap pentingnya sertifikasi masih minim.

“Banyak yang merasa biaya untuk sertifikasi satu bidang tertentu masih berat. Padahal yang paling menikmati manfaat sertikasi adalah pelaku usaha sendiri,” ujarnya.

Dijelaskan, tidak sedikit pelaku usaha yang meminta subsidi sertifikasi bagi tenaga ahli sebagai stimulus. Pihaknya menjadi salah satu asosiasi yang cukup sering menggelar pelatihan bagi tenaga konstruksi dan konsultan, namun sering kali justru tidak diikuti oleh tenaga lokal.

“Idealnya satu badan usaha punya minimal lima tenaga ahli bersertifikat. Sayangnya, sekarang juga tren minat pendidikan anak muda kita berubah, bukan lagi di teknik,” imbuhnya.

Hal senada disampaikan Ketua Asosiasi Kontruksi Nasional (Askonas) Gresik, Nurhadi. Dia mengungkapkan setiap tahun permintaan akan proyek konstruksi semakin meningkat. Ini juga membawa desain baru dan rumit yang merupakan tantangan besar bagi industri konstruksi.

“Untuk ini ketersediaan tenaga ahli sangat penting. Jangan sampai justru tenaga ahli dari luar daerah atau bahkan asing yang masuk menggarap proyek di Gresik,” katanya.

Dikatakan, persoalan SDM menjadi tantangan utama bagi industri jasa kontruksi. Maka tidak salah jika perusahaan konstruksi harus memilih proyek yang sesuai dengan bidang yang dikuasai.

“Karena tidak banyak proyek yang bisa dimasuki. Sehingga berakibat pada penurunan profit dan prestise perusahaan,” pungkasnya. (fir/ris)

(sb/fir/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia