Minggu, 08 Dec 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

78 Persen Pelajar Surabaya Akses Internet untuk Medsos

03 Mei 2019, 16: 55: 31 WIB | editor : Wijayanto

HASIL PENELITIAN: Peneliti, Istidha Nur Amanah (kiri), menunjukkan hasil penelitian yang berjudul "Pemanfaatan Literasi Digital di Kalangan Guru dan P

HASIL PENELITIAN: Peneliti, Istidha Nur Amanah (kiri), menunjukkan hasil penelitian yang berjudul "Pemanfaatan Literasi Digital di Kalangan Guru dan Pelajar di Surabaya" kepada Pemerhati Pendidikan, Murpin Sembiring, di salah satu cafe di jalan Dharmahusa (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA – Orang tua, guru dan Pemerintah  Kota Surabaya tampaknya harus benar-benar memperhatikan pergaulan dan perkembangan generasi penerus ini. Seiring dengan perkembangan teknologi digital dan online yang sudah luar biasa saat ini ternyata bisa membahayakan tumbuh kembang mereka. 

Berdasarkan penelitian Istidha Nur Amanah dari Gurukuhebat, 78 persen pelajar di Surabaya ternyata memanfaatkan teknologi digital, online dan internet bukan untuk mencari referensi tentang ilmu pengetahuan, tapi mereka malah lebih memilih mengakses media sosial (Medsos).

Hal ini diketahui dari hasil penelitian yang diadakan organisasi Gurukuhebat yang mengambil 397 responden dari pelajar dan guru di Kota Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode random sampling dan memiliki toleransi kesalahan sebesar 5 persen.

Istidha Nur Amanah peneliti Gurukuhebat mengatakan, 78 persen pelajar memilih mengakses media sosial (medsos) dan hanya 10 persen yang menggunakannya untuk belajar.  "Sedangkan untuk penggunaan internet setiap hari cukup beragam. Sebanyak 36,6 persen pelajar mengakses internet lebih dari 5-8 jam per hari," ujarnya ketika merilis hasil penelitiannya, Kamis (2/5).

Sedangkan, dari data tersebut, medsos menempati penggunaan internet paling lama yaitu 5-8 jam sehari dan durasi menggunaan internet untuk belajar hanya di bawah lima  jam sehari. Padahal, Istidha memperoleh fakta, bahwa mayoritas pelajar percaya bahan ajar yang ada di internet masih belum akurat.

Anehnya, mereka tetap menggunakannya untuk belajar dan mengerjakan tugas. "Karena kebutuhan mereka mengaksesnya di google search," ujarnya.

Dari hasil penelitian, juga diketahui bahwa rata-rata pelajar di Surabaya memiliki 3-5 media sosial, dengan media sosial terpopuler yaitu Instagram, sebesar 79,6 persen dan disusul Youtube sebesar 52,7 persen. Istidha menyebut, para pelajar ini memilih instagram dan youtube karena dapat memberikan hiburan.

"Media sosial kurang dapat memberikan kontribusi secara positif dengan menyediakan bahan belajar. Pelajar SMA atau SMK di Surabaya mengharapkan adanya aplikasi belajar ataupun official account yang dikelola secara khusus di media sosial dengan menyediakan berbagai bahan belajar," ungkapnya.

Kesimpulan dari hasil penelitian ini, Istidhah memberikan rekomendasi kepada para pemangku kebijakan untuk mendorong terciptanya aplikasi belajar yang menyediakan konten pembelajaran yang menarik dan terverifikasi di internet.(rmt/rak)

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia