Kamis, 27 Jun 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Jumlah Milenial Bertambah, Jatim Backlog 1 Juta Rumah

02 Mei 2019, 22: 06: 54 WIB | editor : Wijayanto

Kawasan perumahan yang dibangun pengembang anggota Apersi Jatim.

Kawasan perumahan yang dibangun pengembang anggota Apersi Jatim. (ABDULLAH MUNIR/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Pemerintah terus mendorong para pelaku usaha perumahan untuk menyediakan rumah rusun atau rumah tapak bagi milenial. Pasalnya pergerakan jumlah kelompok ini dinilai sangatlah cepat.

Direktur Rumah Umum dan Komersial Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Yusuf Hariagung mengatakan, sampai saat ini di Jawa Timur (Jatim) sendiri masih ada sekitar 1 juta lebih backlog rumah. Dimana separuhnya merupakan kelompok milenial.

"Jadi pemerintah akan memang mendorong pelaku usaha, seperti Apersi untuk membangun rumah bagi kelompok ini," terangnya di sela-sela Rakerda DPD Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Jatim 2018, Kamis (2/5).

Saat ini hampir 35 persen atau sebanyak 83 juta penduduk Indonesia merupakan kelompok milenial. "Nanti tahun 2020 jumlahnya akan meningkat lagi. Bisa jadi 100 juta lebih," imbuhnya.

Oleh sebab itu, hal ini menjadi perhatian khusus pemerintah bagaimana mendorong para pelaku usaha perumahan untuk menyediakan rumah bagi milenial. Salah satunya terkait konsep rumah itu sendiri. "Sedangkan dari sisi pelaku usaha, mereka juga didorong untuk menyediakan rumah dengan karakteristik milenial, dimana mereka inginnya serba cepat, lokasi yang terintegrasi dengan informasi dan IT. Memang karakter perumahannya agak sedikit berbeda dengan perumahan umum," jelasnya.

Sedangkan dari segi harga, menurut Yusuf, nantinya akan ada dua kategori, yakni kategori harga milenial yang setara dengan MBR dan milenial yang mempunyai usaha lebih sehingga harga akan disetarakan dengan ASN, TNI, dan Polri.

Menanggapi hal tersebut, Ketua DPD Apersi Jatim Makhrus Sholeh menuturkan, pihaknya siap men-support program tersebut. "Karena milenial memang lagi rame, jadi potensinya memang luar biasa sekali," ujarnya.

Namun demikian, menurutnya, akan sulit untuk menemukan lokasi yang tepat untuk membangun rumah tersebut, mengingat karakteristik milenial itu sendiri yang biasanya dekat dengan pusat perkotaan. "Nah, kelemahannya adalah di sana mahal. Jadi kalau rumah FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan, Red) tidak nutut. Jadi harus ada program sendiri bagi milenial ini," imbuhnya.

Adapun Apersi sepanjang tahun 2019 ini, pihaknya mencanangkan pembangunan rumah subsidi sebanyak 22.000 unit. "Anggota kami ada 310 pengembang, kalau dibagi masing-masing pengembang nantinya akan membangun sekitar 64 unit. Saya pikir bisalah ini tercapai," imbuhnya. Namun menurutnya, hal ini juga harus didukung dengan dukungan dari pihak-pihak terkait, seperti perizinan pemerintah daerah, karena ini sangat berpengaruh pada cashflow pengembang.

"Kemudian harga tanah saat ini juga naik sekali. Sedangkan harga tanah yang masih terjangkau bagi pengembang ini rata-rata ada di pinggir kota. Sedangkan di sana, infrastrukturnya belum siap. Sehingga perlu adanya sinergi dengan pemerintah supaya harganya bisa lebih murah," pungkasnya. (cin/nur)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia