Selasa, 25 Jun 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Selalu Salah di Mata Istri, Akhirnya Melipir Cari Yang Lain

01 Mei 2019, 02: 00: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Yang terjadi pada Donwori, 32, mungkin jadi jawaban mengapa laki-laki enggan menikahi perempuan yang berpendidikan lebih tinggi. Karena merasa lebih pintar, terkadang istri enggan mendengar kata suami. Tentu hal ini melukai harga diri, yang konon katanya nomor satu untuk laki-laki. 

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

"Pokoke kon salah, aku sing bener," atau "Aku gak percoyo omonganmu. Sing tak pelajari nok sekolah gak koyo ngunu," dan  "Aku manut buku sing tak woco, awakmu gak ngerti opo-opo. Ora usah ngengkel." Kata-kata sanggahan semacam ini adalah makanan sehari-hari bagi Donwori. Diucapkan oleh Karin, 29, yang kerap tak terima diarahkan oleh Donwori. Duh, mendengarkan saja menyakitkan. 

Donwori memang kerap jadi kalah-kalahan istri. Penyebabnya adalah status pendidikan yang tak imbang antara keduanya. Donwori memang hanya lulusan SMA. Sementar Karin, lebih maju sedikit dengan gelar SE (Sarjana Ekonomi). Di awal, Donwori tak menyanga kesenjangan jenjang pendidikan akan mempengaruhi rumah tangga keduanya. Karena di awal, ia yakin cinta bisa mengalahkan segalanya. Tapi, rupanya kata-kata drama itu tak terjadi di kehidupan nyata. 

Selama empat tahun menikah, Karin lebih dominan. Karin akan mengarahkan Donwori dalam hal apa pun. Baik hal-hal prinsip maupun melakukan kegiatan remeh temeh sehari-hari.  Donwori juga tak pernah berkutik, karena senjata Karin selalu dikeluarkan ketika suaminya itu mengelak. "Percaya sama aku, aku yang sudah sekolah." Kalimat itulah yang menjadi senjata andalan Karin.  

Donwori menjelaskan, Karin memang terlalu gila dengan gelarnya.  Hingga posisinya sebagai keppala rumah tangga, seakan disabotase oleh Karin. Jangankan dalam mengambil keputusan besar, dari obrolan santai saat makan pun, dipermasalahkan oleh Karin. 

Pernah, suatu ketika keduanya makan, perkara membahas makanan yang tinggi kalorinya pun didebat oleh Karin. Saat itu Donwori menyarankan agar Karin makan menghindari nasi putih. Pasalnya Karin mengeluh gendut, namun usulan Donwori langsung dimentahkan Karin yang tak percaya dengan saran suaminya.

"Kon ojo ngomongi aku. Aku ngerti sing tak lakoni. Sing tak woco, sing garai lemu iku gak nasi putih, tapi bla.. bla.. bla..," jelas Donwori menirukan kalimat sanggahan Karin, dengan mulut mencong ke kanan dan kiri, mengikuti mimik muka istrinya saat dinasehati. Cerita itu disampaikan Donwori di kantor pengacara dekat Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya, Senin (29/4). 

Urusan kecil pun didebat, apalagi masalah lebih berat, seperti mendidik anak. Sebagai orang yang (mengaku) pernah mengaji, Donwori mendidik anak dengan caranya. Namun cara itu selalu disalahkan Karin, yang bilang menurut ilmu sains tidak begini, tidak begitu dan bla, bla, bla. 

Diremehkan oleh istri seperti itu, tentu saja membuat Donwori sedih. Geram, lebih tepatnya. Tak jarang Donwori jadi sangsi dengan posisinya di rumah. "Aku iki kepala rumah tangga. Tugasku ngarahne, kok ngene dadine," keluh lelaki dari Dupak ini. 

Donwori sendiri berpikir, keanehan sikap Karin ini bukanlah karena istrinya pintar. Tapi, ada yang aneh dalam pola pikir Karin. Sayangnya, pola piker itu tak bisa diubah. Karena kesal dengan sikap-sikap menjengkelkan Karin inilah, Donwori mulai bermain api. Memacari perempuan lain yang lebih ‘normal. 

Perselingkuhan itulah yang membuat hubungan Donwori dan Karin retak. Tak terima diselingkuhi, Karin pulang ke rumah orang tua memboyong baju serta anak-anaknya. Pemutusan hubungan pun Karin lakukan via telepon. Ia meminta Donwori untuk mengurus cerainya.

"Cekne areke golek sing sepadan. Jajal bojone kuat ta gak ngadepi wong rodo aneh ngono,"  kata Donwori , santai. Sikap itu meninggalkan pertanyaan apakah perceraian ini benar karena sikap Karin, ataukah karena Donwori selingkuh lalu cari-cari alasan untuk menjatuhkan istrinya? Entahlah. Wallahua’lam. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia