Selasa, 25 Jun 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Gresik

Kadin Gresik Dorong Manufaktur Genjot Ekspor

26 April 2019, 21: 56: 31 WIB | editor : Wijayanto

DORONGAN: Geliat aktivitas ekspor di salahsatu pelabuhan di Kota Gresik.

DORONGAN: Geliat aktivitas ekspor di salahsatu pelabuhan di Kota Gresik. (MUHAMMAD FIRMANSYAH/RADAR GRESIK)

Share this      

GRESIK - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Gresik mendorong sektor manufaktur di Gresik untuk terus menggenjot kegiatan ekspor. Harapannya, pemerintah ikut memberikan berbagai kemudahan salah satunya bisa menekan biaya logistik.

Ketua Bidang Perindustrian Kadin Gresik, Husnul Yakin mengatakan, porsi biaya logistik menyumbang sekitar 40 persen aktivitas ekspor. Mahalnya biasa jasa angkut kapal tidak jarang membuat sejumlah sektor manufaktur di Gresik memilih pasar lokal.  

“Industri manufaktur di Gresik sebenarnya memiliki potensi besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah atau nasional. Untuk itu pelonggaran biaya logistik memberikan dampak yang signifikan terhadap aktivitas ekspor di Gresik,” ujarnya.  

Dijelaskan, sepanjang 2017 angka ekspor di Gresik mencapai 1.08 juta dollar AS. Sementara pada 2018 turun menjadi 1,06 juta dollar AS. Dari jumlah itu sektor manufaktur memberikan kontribusi hingga 85 persen.

Menurut Husnul penurunan tersebut dipicu naiknya biaya logistik serta kebijakan pajak yang cenderung berubah-ubah. “Catatan ekspor yang negatif selama satu tahun ini diakibatkan banyaknya hambatan yang ditemui oleh pengusaha,” tegasnya.

Sementara itu, pengamat ekonomi Universitas Muhammadiyah Gresik, Syaiful menyayangkan turunnya angka ekspor sepanjang setahun terakhir. Ini karena jumlah perusahaan yang bergerak di sektor manufaktur di Gresik cukup banyak. Mulai di sektor tekstil, industri rem dan pegas, hingga baja.

“Jika kondisi manufaktur sedang lemah seperti saat ini harusnya pemerintah memberikan stimulus. Salah satunya tidak mempersulit perizinan perusahaan yang akan atau ingin menambah investasinya,” kata pria yang juga Kepala Program Studi Akutansi itu.

Dia mengungkapkan, sepanjang 2018 jumlah ada sekitar 358 SIUP industri menengah dan 55 SIUP industri besar diterbitkan oleh DPM PTSP Gresik. Dari jumlah itu sebanyak 30 persen merupakan industri yang berorientasi ekspor.

“Turunnya kinerja ekspor memang tidak hanya terjadi di Gresik melainkan hampir di seluruh wilayah jatim. Hal ini dikarenakan berbagai kendala yang dihadapi. Namun yang paling banyak adalah produktivitas industri dan sistem sertifikasi,” katanya. (fir/ris)

(sb/fir/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia