Kamis, 19 Sep 2019
radarsurabaya
icon featured
Politik Sidoarjo

Banyak Jatuh Korban, Cak Nur Sebut Pemilu Serentak Perlu Dievaluasi

26 April 2019, 17: 02: 33 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi

TERFORSIR: Petugas di PPK Candi menghitung suara hasil pemilu 2019. (SATRIA NUGRAHA/RADAR SIDOARJO)

Share this      

SIDOARJO – Banyaknya petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang sakit bahkan meninggal dunia akibat kelelahan saat melakukan penghitungan suara, mendapat perhatian serius masyarakat. Salah satunya Wakil Bupati Sidoarjo Nur Ahmad Syaifuddin. Pria yang kerap disapa Cak Nur itu mengatakan, hal itu terjadi lantaran banyak hal yang berada di luar perencanaan yang ada.

Cak Nur mengatakan, beberapa di antaranya seperti jumlah petugas KPPS yang hanya sedikit, dan waktu penghitungan serta rekapitulasi yang memakan waktu lama. “Bahkan dulu-dulu di PPK itu cukup dengan dua tiga hari,” katanya saat ditemui usai meninjau TPS 3R di Desa Keboansikep Gedangan.

Saat ini kata Cak Nur, bahkan di PPK dengan jumlah TPS yang banyak seperti Taman dan Sidoarjo proses rekapitulasinya bahkan bisa mencapai 8 hari. Hal itu membuat saksi juga harus bertugas selama 8 hari pula. “Semuanya membengkak, dana juga membengkak,” terangnya.

Sementara itu, menteri dalam negeri (Mendagri) mengeluarkan imbauan kepada seluruh pemerintah daerah untuk memberi santunan kepada petugas yang meninggal maupun yang sedang di rumah sakit.

Terkait hal itu, Cak Nur mengatakan, nantinya pihaknya akan melakukan koordinasi terkait hal tersebut. Hingga saat ini di Sidoarjo terdapat satu anggota kepolisian yang meninggal dunia saat bertugas mengawal penghitungan suara.

Namun begitu, Cak Nur masih belum menerima laporan terkait jumlah petugas KPPS yang sedang dirawat di rumah sakit. Nantinya pihaknya juga akan memberikan santunan. “Kalau santunan itu kan kita bisa ambil dari dana apapun,” ujarnya.

Di sisi lain, Cak Nur mengapresiasi pamilihan legislatif dan pemilihan presiden yang dilaksanakan secara serentak. Bahkan hal itu merupakan prestasi tersendiri bagi Indonesia. Sebab pemilihan serentak seperti ini kata Cak Nur juga baru pertama kali di dunia. “Mudah-mudahan ini berhasil dan menjadi prestasi,” ujarnya.

Meskipun, menurutnya pemilihan serentak tetap harus ada evaluasi. Sebab menurut Cak Nur, proses pemilu serentak memakan banyak waktu. Dan itu merupakan hal yang kurang baik.  “Banyak yang kurang baik dan ingin memberikan peluang bagi mereka-mereka yang ingin merusak fungsi yang ada,” katanya. (far/nis)

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia