Kamis, 23 May 2019
radarsurabaya
icon featured
Sidoarjo

Saluran Air Tercemar, Warga Terserang Gatal-gatal

25 April 2019, 22: 27: 45 WIB | editor : Wijayanto

KERUH: Kondisi air di saluran RT 18 RW 09, Desa Sedati Gede, Kecamatan Sedati yang diduga tercemar.

KERUH: Kondisi air di saluran RT 18 RW 09, Desa Sedati Gede, Kecamatan Sedati yang diduga tercemar. (LUKMAN ALFARISI/RADAR SIDOARJO)

SIDOARJO - Sebuah saluran air di RT 18 RW 09 Desa Sedati Gede Kecamatan Sedati mengalami perubahan warna. Dari yang semula terlihat bening menjadi berwarna kuning. Air juga terlihat berminyak.

Salah satu warga Erik Kusdianto mengatakan, kondisi tersebut sudah terjadi sejak satu bulan yang lalu. Erik menduga, perubahan warna tersebut berasa dari salah satu pabrik di wilayah Gedangan dan Sedati. “Itu hanya dugaan, belum kami telusuri,” katanya kepada Radar Sidoarjo, Kamis, (25/4).

Pantauan Radar Sidoarjo di lokasi, banyak ikan kecil yang mati. Bahkan saluran tersebut tercium seperti bau logam yang sudah berkarat. Erik mengatakan, pencemaran saluran air tersebut bahkan masuk di sumur-sumur warga.

Bahkan, warga yang memiliki sumur harus sering kali mengurasnya. Namun ada salah satu warga yang bahkan harus menggali sumur tambahan. “Dikuras terus masih tetap warna airnya kuning, akhirnya buat sumur lagi,” terangnya.

Tidak hanya itu, pencemaran tersebut kata Erik memang sering terjadi. Bahkan warnanya pun berubah-ubah. Kadang merah, berubah menjadi coklat, kemudian menging dan menghitam.

Di sisi lain, beberapa warga bahkan ada yang terserang gatal-gatal. Hal itu membuat beberapa warga di sekitar saluran tersebut merasa resah. “Semenjak tercemar itu, air di sekitar sini membuat gatal,” tambahnya.

Terkait hal itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Keberesihan (DLHK) Sidoarjo Sigit Setyawan mengatakan, di lokasi yang sama pihaknya telah mengambil sampel air di sungai tersebut untuk dibawa ke Surabaya untuk diuji lab.

Namun begitu, hingga saat ini hasil uji lab tersebut belum juga keluar. “Janjinya kan dua minggu, tapi hampir satu bulan ini belum keluar,” ujarnya.

Sementara itu, Sigit mengaku kesulitan untuk mencari sumber penceraman itu berasal. Bahkan pihaknya bahkan harus menggunakan drone untuk menyusuri sungai yang tercemar hingga sajauh tiga kilometer.

Namun begitu proses pencarian sumber pencemaran itu belum juga bisa ditemukan. Saat ini, salah satu upayan yang bisa dilakukan adalah melakukan penelitian terhadap kandungan air yang ada. “Nanti kami undang labnya, kami tanyakan apakah sudah jadi apa belum,” ujarnya. (far/nis)

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia