Kamis, 23 May 2019
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Tak Cuma Jadi Kurir, Safri Nekat Nyubit SS untuk Dijual Sendiri

25 April 2019, 18: 25: 16 WIB | editor : Wijayanto

DIRINGKUS: Petugas menunjukkan barang bukti dan tersangka kasus peredaran narkoba jenis sabu yang berhasil diamankan di Mapolrestabes Surabaya, Kamis

DIRINGKUS: Petugas menunjukkan barang bukti dan tersangka kasus peredaran narkoba jenis sabu yang berhasil diamankan di Mapolrestabes Surabaya, Kamis (25/4). (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Surabaya - Aidil Safri, 44, dan Sofyan Azardi, 40, tak berkutik saat diringkus polisi. Kedua pria yang masing-masing tinggal di Jalan Banyu Urip Wetan IV dan Jalan Pakis Gunung II Surabaya ini digerebek saat sedang bertransaksi sabu-sabu (SS). Safri dan Sofyan merupakan pengedar dan pengguna narkoba.

Penangkapan keduanya berawal dari informasi polisi terkait adanya peredaran sabu di kawasan Mayjend Sungkono. Setelah didalami, polisi mengantongi identitas Safri sebagai seorang pengedar. Ia diketahui tinggal di sebuah kos di kawasan Wonokitri. Tim Satresnarkoba Polrestabes Surabaya pun bergerak menggerebeknya.

"Tapi ketika kami melakukan pengintaian, kami dapati tersangka Safri keluar dari kosnya, lalu kami kuntit," ungkap Kasat Resnarkoba Polrestabes Surabaya, AKBP Indra Mardiana, Kamis (25/4).

Setiba di kawasan Jalan Mayjend Sungkono, Safri rupanya hendak menemui seseorang. Keduanya lantas terlihat melakukan transaksi sabu. Tak ingin buruannya kabur, polisi segera melakukan penangkapan terhadap keduanya. "Dari penangkapan itu, kami dapati satu poket sabu dan sejumlah uang tunai," terangnya.

Polisi lantas mengkeler Safri ke tempat kosnya. Dari sana, polisi kembali mengamankan barang bukti berupa empat poket sabu seberat 52 gram. Tak hanya itu, polisi juga mengamankan timbangan elektrik dan rekapan bukti transaksi sabu. "Di lingkup jaringan besarnya, Safri bertugas sebagai kurir, tapi dia juga mengedarkan SS dalam jumlah kecil," terang Indra.

Berdasarkan hasil penyelidikan dan keterangan Safri, SS itu dipasok dari seorang bandar berinisial JA. Setiap bulan, Safri mendapat jatah SS seberat 100 gram. Dia diminta untuk mengirimkan SS itu ke sejumlah pembeli yang sudah memesan kepada JA. “Jadi Safri ini hanya mengantarkan barang milik JA. Namun, rupanya dia berbuat culas. Sebab sebelum diantar, ia mencubit SS itu untuk dijual sendiri," terangnya.

Menurut Safri untuk sekali antar, dia biasa mendapatkan upah Rp 100 ribu. Padahal setiap bulan, dia bisa mengantarkan SS itu hingga delapan kali. Belum lagi penjualan SS hasil cubitan yang dia jual sendiri.

Setiap bulan, Safri mengaku mengantongi keuntungan sekitar Rp 2 juta. "Tersangka sudah menjalani bisnis narkoba ini sejak empat bulan terakhir," tandas Indra. Safri mengaku nekat menjadi kurir dan pengedar narkoba lantaran harus menafkahi istri dan anaknya. (yua/jay)

(sb/yua/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia