Rabu, 23 Oct 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

USBN dan UNBK Serentak Hari I, Internet Ngadat, Kabel Digigiti Tikus

23 April 2019, 16: 09: 01 WIB | editor : Wijayanto

SERIUS: Siswa tuna netra peserta Ujian Sekolah Berstandar Nasional di SDLB-A Yayasan Pendidikan Anak Buta (YPAB) di Jalan Kedungdoro, Tegalsari, Surab

SERIUS: Siswa tuna netra peserta Ujian Sekolah Berstandar Nasional di SDLB-A Yayasan Pendidikan Anak Buta (YPAB) di Jalan Kedungdoro, Tegalsari, Surabaya, saat mengerjalan soal, Senin (22/4). (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) tingkat sekolah dasar (SD) dan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tingkat SMP digelar serentak, Senin (22/4). Sejumlah sekolah mengalami kendala materi soal hingga jaringan internet.

Pelaksanaan UNBK di SMP Mardi Putera, Jalan Pacar Kembang, sempat mengalami kendala. Kepala SMP Mardi Putera Usman menjelaskan, saat ujian akan dimulai, internet mengalami gangguan jaringan.  “Akhirnya, kami gunakan paketan data untuk internet. Setelah dicek petugas Telkom, ternyata ada kabel yang digigit tikus,” katanya.

Usman menambahkan, gangguan internet hanya berlangsung selama 15 menit. Setelah itu, para siswa bisa mengerjakan soal dengan lancar. “Error-nya pas gelombang pertama sejumlah 20 siswa. Tapi gelombang kedua yang diikuti delapan siswa pada siang hari lancar,”katanya.

Adapun USBN di SDLB A (Tunanetra) Yayasan Pendidikan Anak Buta (YPAB), Jalan Tegalsari, Kedungdoro, diikuti sebelas murid. Pada hari pertama, mereka mengerjakan mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Agama. Jadwal ujian di sekolah spesial ini memang berbeda dengan sekolah konvensional.

“Ujian sekolah di sini termasuk muatan lokal. Itu digabung dengan USBN. Jadi, bersambung untuk sekolah berkebutuhan khusus, ujiannya hari Senin sampai Jumat,” kata Kepala SDLB A YPAB Sutaryono.

Sebelas peserta ujian tersebut dibagi menjadi dua. Ada siswa yang mandiri dalam mengerjakan soal dan ada siswa yang harus didampingi guru. “Maka, kami bagi dua ruangan. Ada siswa yang perlu pendampingan karena ada perlu waktu untuk membaca huruf Braille. Satu siswa didampingi satu guru,” imbuhnya.

Selain itu, bobot soal disesuaikan dengan kemampuan siswa. SLB ini menggunakan 75 persen soal dari diknas, sisanya 25 persen dibuat sendiri.

Dalam USBN kemarin, ada kendala yang dihadapi SDLB A YPAB terkait penggandaaan soal. Sebab, pihak sekolah cuma diberi master soal dalam bentuk tulisan awas (normal).

"Sedangkan kami mintanya dalam bentuk Braille. Jadi, waktu transitnya yang lama. Perlu waktu dua minggu untuk ngeprint. Tapi, Alhamdulillah, satu minggu sebelum ujian sudah selesai,” tuturnya.

Di tempat berbeda, peserta USBN di SD Diponegoro, Jalan Kedungsroko, hanya tiga orang. Ketiga siswa tersebut Atasya Maudy Zarapova, Nurul Imamah, dan Uswatun Hasanah. “Anak-anak mengerjakan dengan sungguh-sungguh dan selesai tepat waktu," kata Kepala SD Diponegoro Sri Wahyu Maikaningrum.

Krisis murid yang dihadapi SD Diponegoro ini karena banyaknya siswa yang pindah sekolah. Awalnya murid kelas enam 17 orang. Namun, di tengah jalan banyak yang dipindahkan ke pondok oleh orang tuanya. "Ada yang hanya sekolah beberapa bulan saja, kemudian pindah ikut orang tuanya,” katanya.(rmt/rek)

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia