Senin, 20 May 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Uang Ludes untuk Pesan PSK, Nekat Dibawa ke Rumah

23 April 2019, 15: 10: 07 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi

Ilustrasi (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Kata salah seorang pengacara, menyewa PSK bagi laki-laki mapan hanyalah hiburan semata. Wajar. Tak perlu dikhawatirkan maupun dipersoalkan. Namun, demi alasan apapun, perempuan sebagai pasangan tentu saja tak terima jika terus-terusan diam lihat suami gonta-ganti pasangan.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya 

Karin, 48, salah satunya.Yang tak tahan lagi melihat suaminya makin suka menyewa perempuan malam. "Tambah tuwo, ora mundak dikurangi. Malah luweh wani dolanan wedokan," keluh Karin di kantor pengacara, dekat Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya, belum lama ini.

Karin sendiri blak-blakan mengatakan bahwa Donwori, suaminya, memang memiliki kebiasaan buruk itu sudah lama. Kalau diibaratkan, mulai bisnisnya merangkak naik, sejak itu pula Donwori semakin berani main perempuan. Bahkan ia hafal, kalau suaminya keluar dari malam sampai pagi, berarti memang sedang ada janji dengan PSK-nya. 

Namun begitu, sejak awal Karin memang tak pernah protes. Ia memang bukanlah penganut agama yang taat-taat sekali. Ia woles saja kalau suaminya ‘njajan. Asalkan jatah tidak berkurang, ya it's ok baby. Ia bahkan malah mengaku senang karena tidak harus menuruti target aneh-aneh Donwori di ranjang. 

Namun suatu saat, perbuatan Donwori ini membuat Karin geram juga. Bukan karena ia mulai cemburu layaknya pasangan ‘normal’ lain. Tapi karena njajannya Donwori ini sudah melewati batas. Suaminya, selain makin naik kelas selera PSK-nya, yang berbanding lurus dengan uang yang dihamburkan, juga mulai berani mengundang PSK ke rumah. 

Karin sih sebenarnya tak ada masalah. Hanya saja ia tak mau kelakuan bapaknya diketahui anak dan mantunya. Meski sebenarnya, Karin yakin anaknya juga sudah tahu meskipun diam.

Perbuatan sembrono Donwori  ini bahkan tak dilakukan sekali-dua kali. Berkali-kali juga Karin mengultimatum agar Donwori berhenti, namun hanya sampai telinga kanan lewat telinga kiri. Tak terhitung pula, sudah berapa kali keduanya terlibat cekcok gara-gara itu. "Embuh sikile sempal ta yok opo. Goro-goro iki, yo kerah ae bendino," lanjut nenek bercucu satu ini. 

Didorong rasa kesal terus-menerus, akhirya Karin memutuskan untuk mengajukan gugatan. "Wong dodolan iki yo wes gak patek rame koyo biyen. Lek diterus-terusne duwite iso entek. Selak tuwek aku kebagian ngramut awake sing bobrok, gak oleh opo-opo akhire," curhat Karin, ringan dan gamblang penuh penekanan. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia