Jumat, 22 Nov 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Pasar Kondusif, Gapero Berharap Sales Industri SKT Naik 15 Persen

22 April 2019, 23: 55: 59 WIB | editor : Wijayanto

MENINGKAT: Pekerja menyelesaikan produksi rokok sigaret kretek tangan (SKT) di salah satu pabrik di Surabaya.

MENINGKAT: Pekerja menyelesaikan produksi rokok sigaret kretek tangan (SKT) di salah satu pabrik di Surabaya. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Gabungan Pengusaha Rokok (Gapero) berharap industri rokok sigaret kretek tangan (SKT) mengalami kenaikan penjualan sekitar 10-15 persen sampai akhir tahun 2019 nanti. Pasalnya dibandingkan dengan tahun lalu, saat ini ada beberapa faktor yang membuat kalangan pengusaha cukup optismistis mampu mencapai target tersebut.

Ketua Gapero Surabaya Sulami Bahar mengatakan, adanya pemberantasan rokok ilegal yang kini semakin gencar dilakukan oleh pemerintah dan juga sudah tidak ada lagi kenaikan tarif dinilai mampu mendorong pencapaian target tersebut.

Selain itu, berbagai upaya lain juga akan dilakukan oleh pengusaha SKT untuk menggenjot kinerjanya tahun ini. Salah satunya dengan agresif memperluas market terutama di luar pulau Jawa. "Kami bersyukur telah mendapatkan fasilitas perdagangan antar pulau dari Pemprov Jatim dan Disperindag Jatim," ujarnya.

Sulami mengatakan, berkat fasilitas tersebut, berbagai produk rokok SKT dari pabrik-pabrik kecil di Surabaya dan sekitarnya sudah bisa dipasarkan ke luar Jawa. Menurutnya, target utama pengusaha SKT menjual barangnya ke luar pulau bukan untuk mencari omzet. Tapi keinginan utama mereka adalah bisa mendapatkan distributor dan pembeli tetap.

Sulami menjelaskan, jika sudah ada buyer tetap, otomatis omzet akan mengikuti. Sedangkan sejauh ini permintaan terbesar SKT di luar Jawa adalah area Medan. "Kami merasa manfaat dari perdagangan antar pulau ini cukup besar. Beberapa pabrik rokok kecil yang awalnya terancam mati, dengan adanya fasilitas seperti ini, bisa menggenjot kembali kinerja mereka dan bahkan membuat marketnya meluas," ungkapnya.

Namun demikian, di sisi lain, Sulami tidak memungkiri bahwa industri rokok sekarang masih memiliki banyak kendala. Mulai banyak daerah-daerah yang berencana akan menerapkan perda tentang KTR (kawasan tanpa rokok), termasuk Surabaya.

Selain itu, kaum milenial kini juga sudah mulai enggan untuk pakai SKT karena terbuat dari tangan. Mayoritas anak muda sekarang suka mengonsumsi rokok sigaret kretek mesin (SKM). "Nah, hal-hal seperti itu yang membuat market kami lesu. Tahun lalu saja penjualan SKT di Surabaya turun 10 persen dibanding 2017. Tapi kami harap tahun ini bisa lebih baik lagi," paparnya. 

Oleh sebab itu, pihaknya tidak henti-hentinya berharap agar pemerintah benar-benar melindungi industri SKT ini. "Sebab SKT termasuk heritage, jadi harus terus diproteksi agar tidak punah," imbuh Sulami. (cin/jay)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia